Akhirnya Spanyol pun Harus Angkat Koper dari Qatar

Contoh ketika lawan Maroko kemarin. Mereka menguasai bola dengan persentase 77 persen. Mereka juga berhasil melesakkan 13 tembakan. Akan tetapi, pada akhirnya, hanya satu yang tepat sasaran.

Kurang klinisnya lini depan Spanyol ini seolah jadi masalah turun temurun sejak 2018 lalu. Bahkan, bibit penyakit ini sudah muncul pada 2014, saat Spanyol gagal lolos fase grup. Mereka seperti mengumpan-umpan saja, tanpa tujuan jelas.
Pep Guardiola pernah berujar, ketika menangani Barcelona, dia memang ingin para pemainnya tampil dominan. Namun, dia tidak ingin para pemainnya hanya main umpan-umpanan saja, tanpa tujuan pasti. Karena pada akhirnya, harus ada gol tercipta.

Bacaan Lainnya

Nah, itu juga yang perlu dipikirkan Spanyol. Menguasai laga adalah hal yang wajar, karena dengan begitu, permainan bisa didikte. Akan tetapi, pada akhirnya, tetap harus ada tujuan akhir dari semua dominasi ini.

Ya, mungkin Spanyol harus sedikit meredefinisi permainan mereka. Bukan sekadar ‘tiki-taka’ yang pada akhirnya berujung pada kebuntuan yang hakiki.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *