Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan tidak ada kewajiban bagi satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) untuk mengurangi relawan. Penegasan ini disampaikan juru bicara BGN Tysa Novenny untuk meluruskan kabar yang beredar mengenai pengurangan relawan di dapur-dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). BGN menjelaskan bahwa perhitungan jumlah relawan yang disampaikan kepada SPPG bertujuan membantu mitra menyesuaikan kebutuhan tenaga berdasarkan jumlah penerima manfaat di wilayah masing-masing, bukan untuk memangkas tenaga kerja.
Kabar mengenai pengurangan relawan SPPG sempat menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat, terutama di kalangan relawan dan pengelola dapur MBG. Banyak pihak khawatir kebijakan tersebut akan menghilangkan pekerjaan para relawan yang selama ini membantu penyiapan makanan bagi anak-anak sekolah dan kelompok penerima manfaat lainnya. Melalui penjelasan resmi ini, BGN meminta seluruh pihak tidak salah memahami aturan yang berlaku dan tetap tenang dalam menjalankan tugas di dapur MBG.

Skema Hitungan Jumlah Relawan per Dapur SPPG
BGN membeberkan skema hitungan jumlah relawan yang menjadi pedoman bagi SPPG. Untuk dapur yang melayani lebih dari 3.000 penerima manfaat, jumlah relawan yang dihitung sebanyak 47 orang per hari. Dapur yang melayani 2.500 hingga 2.999 penerima manfaat dihitung membutuhkan 42 relawan per hari. Dapur dengan 2.000 hingga 2.499 penerima manfaat membutuhkan 33 relawan per hari. Selanjutnya, dapur yang melayani 1.500 hingga 1.999 penerima manfaat membutuhkan 24 relawan per hari, sedangkan dapur dengan 1.000 hingga 1.499 penerima manfaat membutuhkan 15 relawan per hari.
Skema ini disusun berdasarkan perhitungan kebutuhan tenaga kerja di dapur, mulai dari proses penyiapan bahan, pengolahan makanan, pengemasan, hingga pendistribusian kepada penerima manfaat. Semakin banyak penerima manfaat yang dilayani, semakin besar pula kebutuhan tenaga kerja di dapur. Skema ini dimaksudkan sebagai acuan perencanaan, agar SPPG dapat mengatur jumlah relawan secara lebih tertib dan efisien tanpa mengorbankan kualitas makanan yang disajikan kepada masyarakat.
BGN menegaskan bahwa angka-angka dalam skema tersebut bukanlah batas maksimal jumlah relawan yang boleh dipekerjakan. Jumlah relawan tetap boleh melebihi angka yang tercantum dalam skema, selama kebutuhan di lapangan memang memerlukannya. Selain itu, BGN juga membuka opsi pengaturan jadwal kerja secara bergiliran atau shifting bagi para relawan, sehingga dapur tetap dapat beroperasi dengan baik tanpa membebani para relawan yang bekerja setiap hari.
Baca Juga: Manfaat Sayur dan Buah untuk Daya Tahan Tubuh
Baca Juga: Manfaat Minum Air Putih yang Cukup untuk Kesehatan Tubuh
953 SPPG Baru Diaktifkan di 34 Provinsi
Di tengah penjelasan mengenai aturan relawan ini, BGN juga terus memperluas jangkauan program Makan Bergizi Gratis. BGN telah mengaktifkan 953 SPPG baru di 34 provinsi, dengan target menjangkau 1,5 juta penerima manfaat tambahan. Perluasan ini menunjukkan bahwa program MBG terus berkembang dan menjangkau semakin banyak daerah di Indonesia. Setiap dapur baru membutuhkan relawan dan tenaga kerja yang terlatih agar makanan yang disajikan tetap bergizi dan aman dikonsumsi.
Di sisi lain, BGN juga mengambil langkah tegas dengan menangguhkan 6.097 SPPG yang tidak tertib dalam menyampaikan laporan dana harian. Penangguhan ini dilakukan untuk menjaga akuntabilitas penggunaan dana program. BGN mewajibkan seluruh SPPG melaporkan penggunaan dana secara tertib dan tepat waktu, agar program MBG berjalan transparan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Langkah ini diharapkan membuat pengelolaan program semakin disiplin di seluruh daerah.
Keberadaan relawan menjadi tulang punggung dapur MBG di berbagai daerah. Mereka bekerja setiap hari menyiapkan ribuan porsi makanan untuk anak-anak sekolah, ibu hamil, dan kelompok penerima manfaat lainnya. Karena itu, pengaturan jumlah relawan yang tepat menjadi penting, tidak hanya untuk efisiensi, tetapi juga untuk menjaga kualitas dan keamanan pangan. Makanan yang disiapkan di dapur SPPG harus memenuhi standar gizi dan kebersihan, dan hal itu hanya dapat dicapai dengan jumlah tenaga kerja yang memadai.
Dengan penjelasan resmi dari BGN ini, para pengelola SPPG dan relawan diharapkan dapat bekerja dengan lebih tenang. Aturan mengenai jumlah relawan bukanlah pengurangan, melainkan pedoman agar dapur dapat beroperasi secara lebih tertib. Masyarakat juga diharapkan turut mengawasi dan mendukung program MBG di lingkungan masing-masing, agar anak-anak Indonesia mendapatkan makanan bergizi yang layak setiap hari. Program yang berjalan dengan baik akan memberikan dampak besar bagi kesehatan dan masa depan generasi muda Indonesia.
Sumber:
https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8741185/bgn-beberkan-aturan-pengurangan-relawan-sppg-ini-skema-hitungannya






