Shalat Dhuha adalah shalat sunah yang dikerjakan pada pagi hari, setelah matahari terbit hingga menjelang waktu Dzuhur. Shalat ini memiliki keutamaan yang besar, antara lain sebagai sedekah untuk setiap sendi tubuh, sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abu Dzar yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dan disebut sebagai shalatnya kaum awwabin, yaitu orang-orang yang kembali kepada Allah. Setelah menunaikan shalat Dhuha, terdapat beberapa doa yang dianjurkan untuk dibaca, yang di dalamnya terkandung permohonan rezeki, kekuatan, dan ampunan. Berikut ini adalah doa-doa setelah shalat Dhuha beserta arti dan penjelasannya.
Sebelum membahas doa-doanya, ada baiknya kita mengingat kembali tata cara shalat Dhuha secara singkat. Shalat Dhuha dikerjakan paling sedikit dua rakaat dan paling banyak dua belas rakaat, dengan salam pada setiap dua rakaat. Niatnya dibaca sebagai berikut: “Ushalli sunnatad dhuha rak’ataini lillahi ta’ala”, yang artinya “Saya niat shalat sunah Dhuha dua rakaat karena Allah ta’ala”. Pada rakaat pertama dan kedua, setelah membaca surat Al-Fatihah, dianjurkan membaca surat-surat seperti Asy-Syams, Ad-Dhuha, Al-Kafirun, atau Al-Ikhlas. Setelah salam, barulah doa-doa berikut ini dibaca.
Seorang pria memegang tasbih di dalam masjid. Foto: Alena Darmel via Pexels.
Doa pertama: memohon rezeki
Doa yang paling dikenal setelah shalat Dhuha adalah doa yang diawali dengan “Allahumma innad dhuha’a dhuha’uka”. Doa ini berbunyi sebagai berikut:
اَللّٰهُمَّ إِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللّٰهُمَّ إِنْ كَانَ رِزْقِيْ فِي السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ مُعْسِرًا فَيَسِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ، بِحَقِّ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ، آتِنِيْ مَا آتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ
Allâhumma innad dluha’a dluha’uka, wal bahâ’a bahâ’uka, wal jamâla jamâluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ‘ishmata ‘ishmatuka. Allâhumma in kâna rizqî fis samâ’i fa anzilhu, wa in kâna fil ardhi fa akhrijhu, wa in kâna mu‘siran fa yassirhu, wa in kâna harâman fa thahhirhu, wa in kâna ba‘îdan fa qarribhu, bi haqqi dluha’ika wa bahâ’ika wa jamâlika wa quwwatika wa qudratika, âtinî mâ âtaita ‘ibâdakas shâlihîn.
Artinya: “Wahai Tuhanku, sungguh dhuha ini adalah dhuha-Mu, keagungan ini adalah keagungan-Mu, keindahan ini adalah keindahan-Mu, kekuatan ini adalah kekuatan-Mu, kekuasaan ini adalah kekuasaan-Mu, dan penjagaan ini adalah penjagaan-Mu. Wahai Tuhanku, apabila rezekiku berada di langit, turunkanlah. Apabila berada di bumi, keluarkanlah. Apabila sulit, mudahkanlah. Apabila haram, sucikanlah. Apabila jauh, dekatkanlah. Dengan hak dhuha-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu, dan kekuasaan-Mu, berikanlah kepadaku apa yang Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh.”
Baca Juga: Doa untuk Anak yang Sedang Ujian: Arab, Latin, dan Artinya
Baca Juga: Keutamaan Shalat Dhuha: Sedekah untuk Setiap Sendi dan Shalatnya Kaum Awwabin
Makna doa ini sangat dalam. Bagian pertama menegaskan bahwa segala sesuatu adalah milik Allah: waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan, kekuasaan, dan penjagaan, semuanya adalah milik-Nya. Pengakuan ini adalah fondasi dari doa: kita meminta kepada Zat yang memiliki segalanya. Bagian kedua adalah permohonan rezeki dalam segala kemungkinan: jika rezeki berada di langit, mohon diturunkan; jika di bumi, mohon dikeluarkan; jika sulit, mohon dimudahkan; jika haram, mohon disucikan; jika jauh, mohon didekatkan. Doa ini mengajarkan bahwa rezeki tidak hanya tentang jumlah, tetapi juga tentang keberkahan dan kehalalannya.
Doa kedua: memohon kekuatan
Doa kedua setelah shalat Dhuha berbunyi sebagai berikut:
اَللّٰهُمَّ بِكَ أُصَاوِلُ وَبِكَ أُحَاوِلُ وَبِكُ أُقَاتِلُ
Allâhumma bika ushâwilu, wa bika uhâwilu, wa bika uqâtilu.
Artinya: “Dengan-Mu, aku menerjang. Dengan-Mu, aku berupaya. Dengan-Mu, aku berjuang.”
Doa yang singkat ini mengandung pengakuan bahwa segala daya dan upaya manusia berasal dari Allah. Kita menerjang kesulitan, berupaya dalam pekerjaan, dan berjuang menghadapi tantangan, semuanya dengan pertolongan Allah. Doa ini cocok dibaca sebelum memulai aktivitas harian, karena mengingatkan kita untuk tidak mengandalkan kekuatan sendiri semata.
Doa ketiga: istighfar setelah Dhuha
Doa ketiga adalah sebuah istighfar yang dibaca sebanyak empat puluh kali atau seratus kali setelah shalat Dhuha, dengan lafal sebagai berikut:
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
Rabbighfir lî, warhamnî, wa tub ‘alayya, innaka antat tawwâbur rahîm.
Artinya: “Tuhanku, ampunilah aku. Kasihanilah aku. Terimalah tobatku. Sungguh, Engkau Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
Istighfar ini menutup rangkaian doa setelah Dhuha dengan permohonan ampunan. Setelah memohon rezeki dan kekuatan, kita diingatkan untuk memohon ampunan, karena tidak ada rezeki yang lebih besar daripada ampunan Allah. Membaca istighfar empat puluh atau seratus kali memang membutuhkan waktu, tetapi dapat dilakukan secara perlahan sambil berzikir, misalnya dengan tasbih, dan lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan yang menenangkan.
Ketiga doa ini dapat dibaca setelah shalat Dhuha, baik dua rakaat maupun lebih. Bagi yang baru mulai mengamalkannya, mulailah dari doa pertama, dan hafalkan sedikit demi sedikit. Setelah terbiasa, tambahkan doa kedua dan doa ketiga. Membaca doa dengan memahami artinya akan membuat shalat Dhuha terasa lebih bermakna, karena kita tidak sekadar mengucapkan lafal, tetapi benar-benar menghayati permohonannya. Jadikan shalat Dhuha dan doa-doanya sebagai rutinitas pagi yang menenangkan, sebelum memulai aktivitas harian.
Sumber:
NU Online – “Tata Cara Shalat Dhuha dan Keutamaannya” (22 Jul 2021): https://nu.or.id/syariah/tata-cara-shalat-dhuha-dan-keutamaannya-dM81x
