Masa pensiun sering terasa sangat jauh bagi anak muda yang baru mulai bekerja. Gaji pertama terasa lebih nikmat dipakai untuk gaya hidup hari ini daripada disisihkan untuk hari tua yang belum terbayang. Padahal, justru waktu adalah modal terbesar dalam menyiapkan dana pensiun. Semakin dini seseorang mulai, semakin ringan beban bulanannya, karena uangnya punya waktu puluhan tahun untuk bertumbuh. Sebaliknya, menunda sepuluh tahun bisa berarti harus menabung dua kali lipat lebih besar setiap bulannya.
Mengapa dana pensiun tidak boleh ditunda? Karena masa pensiun adalah masa ketika seseorang berhenti bekerja pada usia tertentu, yang berarti penghasilan dari pekerjaan pun berhenti. Finansialku mengingatkan bahwa jaminan pensiun dari perusahaan, baik yang dibayar sekaligus (lump sum) maupun gabungan, yang umumnya dikelola melalui Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), sering kali tidak sebanding dengan pengeluaran pada masa pensiun. Program publik seperti BPJS Ketenagakerjaan pun terbukti belum cukup: seseorang berpenghasilan Rp3 juta per bulan misalnya, hanya memperoleh sekitar 50 persen dari penghasilannya melalui program tersebut, padahal pengeluaran di masa pensiun kurang lebih sama besarnya dengan pengeluaran di masa produktif. Karena itu, dana pensiun pribadi menjadi keharusan, bukan sekadar pelengkap.

1. Tentukan Usia Pensiun dan Gaya Hidup yang Diinginkan
Langkah pertama adalah menetapkan kapan Anda ingin pensiun dan seperti apa kehidupan yang Anda inginkan saat itu. Seseorang yang masih harus menyekolahkan anak pada masa pensiun tentu membutuhkan dana lebih besar daripada yang anak-anaknya sudah mandiri. Begitu pula gaya hidup boros di masa muda akan menuntut dana pensiun yang lebih besar. Menetapkan target sejak awal membuat perhitungan menjadi nyata, bukan sekadar angan-angan, dan memudahkan Anda menentukan berapa yang harus disisihkan setiap bulan.
2. Hitung Kebutuhan Dana Pensiun Anda
Finansialku memberi contoh simulasi: seseorang berusia 25 tahun yang berencana pensiun pada usia 60 tahun memiliki waktu 35 tahun untuk menabung. Dengan pengeluaran Rp10 juta per bulan, tunjangan hari tua dari perusahaan Rp600.000, dan hasil investasi Rp500.000, serta memperhitungkan inflasi, hasil perhitungannya menunjukkan kebutuhan berinvestasi sebesar Rp41.144.874 per tahun atau Rp2.761.756 per bulan selama 35 tahun. Angka ini adalah contoh dengan asumsi tertentu; kebutuhan setiap orang berbeda-beda sesuai penghasilan, pengeluaran, dan target gaya hidupnya. Yang penting, hitunglah sejak sekarang agar Anda tahu besarnya target yang harus dicapai, dan sesuaikan perhitungannya dengan kondisi Anda sendiri.
3. Mulai dari Nominal Kecil, tetapi Konsisten
Tidak perlu menunggu gaji besar untuk mulai. Sisihkan persentase tetap dari setiap penghasilan, misalnya 10 persen, dan perlakukan setoran itu seperti tagihan wajib yang dibayar di awal gajian, bukan dari sisa uang belanja. Konsistensi selama puluhan tahun jauh lebih menentukan daripada nominal besar yang hanya dilakukan sesekali. Dengan cara ini, menabung untuk pensiun menjadi kebiasaan, bukan beban yang selalu ditunda.
Baca Juga: 5 Cara Mengatur Gaji Bulanan agar Tidak Habis di Tengah Bulan dan 5 Cara Mengelola Gaji Pertama dengan Bijak
4. Pisahkan Dana Pensiun dari Tabungan Lain
Dana pensiun harus disimpan terpisah dari dana darurat dan tabungan jangka pendek, misalnya pada rekening atau instrumen khusus yang tidak mudah diutak-atik. Jika tercampur dengan uang belanja harian, dana pensiun akan mudah tergerus oleh kebutuhan sesaat. Pemisahan ini juga memudahkan Anda memantau perkembangannya dari tahun ke tahun, sehingga Anda tahu apakah sudah berada di jalur yang benar atau perlu menambah setoran.
5. Manfaatkan Program yang Sudah Tersedia
Jangan abaikan jaminan yang sudah Anda miliki: program pensiun perusahaan atau DPLK dan BPJS Ketenagakerjaan adalah fondasi yang baik. Namun, karena keduanya terbukti belum cukup menutup pengeluaran masa pensiun, lengkapi dengan kontribusi pribadi melalui investasi. Kombinasi ketiganya memberi bantalan yang jauh lebih kuat daripada hanya mengandalkan satu sumber, dan mengurangi risiko Anda kekurangan dana di hari tua.
6. Pilih Instrumen Sesuai Jangka Waktu Panjang
Karena horizonnya puluhan tahun, dana pensiun cocok ditempatkan pada instrumen yang memberi imbal hasil di atas inflasi dalam jangka panjang, seperti reksa dana, saham, atau emas, dengan tetap menyesuaikan profil risiko masing-masing. Diversifikasi penting agar risiko tersebar, dan hindari menaruh seluruh dana pada satu instrumen yang bergejolak. Seiring mendekatnya usia pensiun, porsi instrumen yang lebih stabil dapat diperbesar untuk melindungi dana yang sudah terkumpul.
7. Tinjau dan Sesuaikan Setiap Tahun
Perencanaan pensiun bukan dokumen yang dibuat sekali lalu dilupakan. Tinjau setiap tahun: naikkan kontribusi seiring kenaikan penghasilan, sesuaikan target dengan inflasi dan perubahan hidup seperti pernikahan, kelahiran anak, atau kondisi kesehatan. Penyesuaian kecil yang rutin jauh lebih mudah daripada perbaikan besar di usia menjelang pensiun, ketika waktu yang tersisa sudah sangat singkat.
Masa pensiun yang nyaman bukan hadiah yang datang tiba-tiba, melainkan hasil dari keputusan-keputusan kecil yang konsisten sejak muda. Mulailah hari ini, dari nominal yang Anda mampu, dan biarkan waktu bekerja untuk Anda. Semakin cepat Anda mulai, semakin ringan langkah Anda menuju hari tua yang tenang dan mandiri.
Sumber: Finansialku, “Strategi Menyiapkan Dana Pensiun Lengkap dengan Simulasinya”, https://www.finansialku.com/panduan-belajar/strategi-menyiapkan-dana-pensiun-lengkap-dengan-simulasi-pkup0607/ (11 Agustus 2021).




