Saham untuk Pemula: Cara Memulai dengan Modal Kecil

Saham untuk Pemula: Cara Memulai dengan Modal Kecil

Saham adalah salah satu instrumen investasi yang paling populer, dan semakin banyak pemula yang tertarik untuk memulainya. Daya tariknya jelas: saham mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik, dan kini memulainya bisa dilakukan dengan modal yang relatif kecil. Namun, di balik potensi keuntungan tersebut ada risiko yang sama nyatanya. Sebelum membeli saham pertama Anda, penting untuk memahami apa itu saham, bagaimana cara kerjanya, dan apa saja risikonya, agar keputusan yang diambil berdasarkan pengetahuan, bukan sekadar ikut-ikutan.

Saham adalah sebuah bukti kepemilikan nilai sebuah perusahaan. Kata saham sendiri diambil dari bahasa Arab. Dalam literatur fikih, saham diambil dari istilah musamahah yang berasal dari kata sahm, yang bentuk jamaknya ashum atau suhmah, yang artinya bagian atau bagian kepemilikan. Artinya, pemilik saham adalah pemilik perusahaan. Semakin besar saham yang dimiliki, maka semakin besar pula kekuasaannya di perusahaan tersebut. Dengan menerbitkan saham, perusahaan-perusahaan yang membutuhkan pendanaan jangka panjang dapat “menjual” kepentingan dalam bisnis mereka, yaitu saham atau efek ekuitas, dengan imbalan uang tunai. Ini adalah metode utama untuk meningkatkan modal bisnis selain menerbitkan obligasi. Saham dijual melalui pasar primer atau pasar sekunder. Sebagai pemegang saham, Anda memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas aset perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Bacaan Lainnya

Saham untuk Pemula: Cara Memulai dengan Modal Kecil

Laporan saham dengan grafik kinerja pasar. Foto: RDNE Stock project via Pexels.

Ada dua cara utama seorang pemegang saham memperoleh keuntungan. Yang pertama adalah peningkatan nilai kapital, yaitu menjual saham dengan harga yang lebih tinggi dari harga belinya. Yang kedua adalah mendapatkan dividen, yaitu bagian laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Namun, perlu dipahami bahwa harga saham bisa naik ataupun turun, seiring dengan situasi dan kondisi yang ada. Sebuah saham hanya bisa naik secara wajar jika perusahaan yang bersangkutan menunjukkan kinerja yang positif, seperti laba bersih yang besar dan bertumbuh. Dengan kata lain, tidak ada keuntungan yang pasti di pasar saham, dan harga yang turun dapat membuat nilai investasi Anda berkurang.

Baca Juga: Menabung Emas: Cara Memulai Investasi Emas untuk Pemula

Baca Juga: 7 Cara Menyiapkan Dana Darurat untuk Keluarga, Lengkap dengan Cara Menghitung Jumlah Idealnya

Jenis-jenis saham yang perlu dikenal
Ada beberapa tipe saham yang perlu diketahui pemula. Yang pertama adalah saham biasa, yang memberikan hak suara kepada pemegangnya, misalnya untuk memilih dewan komisaris, serta hak didahulukan apabila perusahaan menerbitkan saham baru. Pemegang saham biasa juga memiliki tanggung jawab terbatas, yaitu hanya sebesar jumlah yang disetorkan. Yang kedua adalah saham preferen, yang sering disebut saham campuran karena memiliki ciri-ciri hampir sama dengan obligasi. Pemegang saham preferen mempunyai prioritas lebih tinggi dari saham biasa dalam hal pembagian dividen, biasanya mempunyai hak dividen kumulatif, dan dalam hal likuidasi, investor saham preferen dibayar setelah pembayaran kepada investor obligasi, tetapi sebelum pemegang saham biasa. Selain itu, ditinjau dari kinerja perdagangannya, saham dapat dikelompokkan antara lain menjadi blue chip stocks, yaitu saham biasa yang memiliki reputasi tinggi sebagai pemimpin dalam industrinya dan umumnya masuk dalam indeks saham seperti LQ45 dan IDX30; income stocks, yaitu saham emiten dengan kemampuan membayarkan dividen lebih tinggi dari rata-rata; growth stocks; speculative stocks; cyclical stocks; emerging growth stocks; dan defensive stocks, yaitu saham yang tetap stabil dari suatu periode atau kondisi yang tidak menentu dan resesi.

Pasar primer, pasar sekunder, IPO, dan right issue
Penawaran saham perusahaan kepada masyarakat untuk pertama kali sebelum tercatat di bursa dinamakan Initial Public Offering (IPO), sedangkan jika perusahaan sudah terdaftar dan ingin menambah saham beredar dengan memberikan hak terlebih dahulu kepada pemegang saham lama, maka hal tersebut disebut dengan right issue. Setelah saham tercatat di bursa, saham tersebut diperdagangkan di pasar sekunder, tempat investor membeli dan menjual saham di antara mereka. Untuk memantau kondisi pasar secara umum, investor menggunakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai barometer saham di Indonesia, yang mencerminkan pergerakan harga saham secara keseluruhan.

Cara memulai membeli saham
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menjadi nasabah pada perusahaan efek terlebih dahulu, yang dikenal dengan perusahaan sekuritas, yaitu perusahaan yang menjadi perantara perdagangan efek. Pada tanggal 31 Maret 2018, terdapat 108 perusahaan sekuritas yang telah terdaftar sebagai anggota Bursa Efek Indonesia, yang terdiri dari perusahaan sekuritas plat merah atau BUMN dan perusahaan sekuritas swasta. Pilihlah perusahaan sekuritas yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan, dan pelajari biaya serta fasilitas yang ditawarkannya. Setelah rekening efek dibuka, investor menyetorkan dana sebagai modal awal. Jumlah yang disetorkan bervariasi, dan pada dasarnya tidak ada batasan minimal jumlah nominal membeli saham, tetapi di Bursa Efek Indonesia perdagangan dilakukan dalam satuan lot. Di Indonesia, pembelian saham harus dilakukan atas kelipatan 100 lembar atau disebut juga dengan 1 lot. Transaksi penjualan atau pembelian dapat dilakukan pada hari bursa. Karena satuan pembeliannya adalah lot, maka modal yang dibutuhkan untuk membeli satu lot saham dengan harga per lembar yang rendah bisa jadi cukup terjangkau, dan inilah yang membuat saham dapat dimulai dengan modal kecil.

Risiko yang wajib dipahami
Saham bukan instrumen tanpa risiko. Risiko yang paling nyata adalah fluktuasi harga: harga bisa turun hingga di bawah harga beli, dan tidak ada pihak yang menjamin harga akan kembali naik. Ada pula risiko likuiditas, yaitu saham yang sulit dijual karena minimnya pembeli, serta risiko perusahaan itu sendiri, seperti kinerja yang memburuk atau bahkan kebangkrutan, yang bisa membuat nilai saham mendekati nol. Karena itu, jangan gunakan dana kebutuhan pokok, dana darurat, apalagi utang, untuk membeli saham. Waspadalah terhadap pihak yang menjanjikan keuntungan pasti dari saham, karena tidak ada keuntungan yang pasti di pasar modal. Apabila ada yang menawarkan “pasti untung” dengan imbal hasil yang tidak masuk akal, besar kemungkinan itu adalah penipuan.

Beberapa prinsip sederhana dapat membantu pemula: mulailah dengan modal kecil yang Anda rela kehilangannya, pilih perusahaan yang bisnisnya Anda pahami, jangan menaruh seluruh dana pada satu saham, pelajari laporan keuangan sederhana perusahaan yang Anda beli, dan berpikirlah jangka panjang daripada mengejar keuntungan cepat. Hindari membeli saham hanya karena ramai dibicarakan, dan jangan panik ketika harga berfluktuasi. Belajar terus-menerus adalah bagian dari proses: pahami istilah dasar, ikuti perkembangan perusahaan yang Anda miliki, dan evaluasi portofolio Anda secara berkala.

Saham dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan aset dalam jangka panjang, tetapi ia bukan jalan pintas menuju kekayaan. Dengan memahami pengertian saham, jenis-jenisnya, mekanisme pembeliannya, serta risikonya, pemula dapat memulai dengan lebih tenang dan terukur. Mulailah dari yang kecil, gunakan dana dingin, dan biarkan pengetahuan serta pengalaman Anda bertumbuh seiring waktu.

Artikel ini bersifat edukasi dan bukan ajakan untuk membeli atau menjual aset tertentu.

Sumber:
Wikipedia bahasa Indonesia – Saham: https://id.wikipedia.org/wiki/Saham

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *