Suara “crong-crong” dari dawai ukulele yang dipetik berirama menjadi ciri paling mudah dikenali dari musik keroncong. Keroncong adalah salah satu genre musik khas Indonesia yang sudah berumur lebih dari seabad. Ia lahir dari perjumpaan budaya Portugis, Melayu, Jawa, dan berbagai tradisi Nusantara, lalu tumbuh menjadi musik rakyat yang melintasi generasi.
Meski sempat dianggap musik orang tua dan meredup di tengah gelombang musik pop dan rock, keroncong tidak pernah benar-benar hilang. Ia terus hidup di panggung-panggung komunitas, festival budaya, dan belakangan juga di ruang digital. Mengenal keroncong berarti mengenal sepotong sejarah pertemuan budaya di Nusantara.
Asal-Usul: Dari Fado Portugis ke Nusantara
Musik keroncong berasal dari jenis musik fado, lagu rakyat Portugis yang dibawa para pelaut dan budak kapal niaga bangsa Eropa sejak abad ke-16 ke Maluku Utara. Musik keroncong pertama kali tercipta pada tahun 1512, ketika bangsa Portugis pertama kali sampai ke Kesultanan Ternate, dan musik khas Portugis itu berpadu dengan musik khas Kesultanan Ternate. Perpaduan inilah yang menjadi cikal bakal keroncong.
Pada tahun 1661, VOC membebaskan tawanan Portugis dan budak asal Goa di Kampung Tugu, Cilincing, Jakarta Utara, dengan syarat mereka berpindah agama dari Katolik menjadi Protestan. Seiring perubahan itu, lagu-lagu fado yang bernada minor beralih ke tangga nada mayor, mengikuti nyanyian gereja Protestan. Kampung Tugu kemudian menjadi salah satu pusat awal keroncong di Indonesia. Pada sekitar tahun 1880, musik keroncong pun lahir dalam bentuk yang kita kenal, setelah ukulele ditemukan pada tahun 1879 di Hawaii dan menjadi alat musik utamanya. Masuk pula unsur tradisional Nusantara, seperti seruling dan berbagai komponen gamelan.
Alat-Alat Musik Keroncong
Ciri khas keroncong terletak pada perangkat alat musik dawainya. Ukulele kecil yang disebut cuk, berdawai tiga dari nilon dengan urutan nada G, B, dan E, adalah alat musik utama yang menyuarakan bunyi “crong-crong”, sehingga genre ini disebut keroncong. Ukulele yang lebih besar, cak, berdawai empat dari baja dengan urutan nada A, D, Fis, dan B, berfungsi menjaga irama bersama bas.
Selain itu, orkes keroncong memakai gitar akustik sebagai gitar melodi yang dimainkan dengan gaya kontrapuntis, biola sebagai penuntun melodi, flute yang menggantikan suling bambu, selo yang dipetik atau pizzicato menggantikan kendang, serta kontrabas yang dipetik menggantikan gong. Penjaga irama dipegang oleh ukulele dan bas, sementara gitar dan selo mengatur akord, biola menuntun melodi, dan flute mengisi hiasan atas. Dalam bentuk awalnya, keroncong juga diiringi suling, rebab, dan sitar, yang kemudian beradaptasi dengan instrumen gamelan seperti gendang, kenong, dan saron.
Baca Juga: Mengenal Reog Ponorogo: Seni Tradisional dari Jawa Timur yang Mendunia
Jenis-Jenis Keroncong
Sejak pertengahan abad ke-20 dikenal paling tidak tiga jenis keroncong, yang dibedakan berdasarkan progresi akord dan bentuk lagunya. Pertama, Langgam Keroncong, yang bentuknya mengikuti struktur lagu populer dengan panjang 32 birama. Kedua, Stambul Keroncong, yang berasal dari bentuk Stambul dan dimainkan dengan irama yang lebih cepat. Ketiga, Keroncong Asli, bentuk yang paling baku dan paling kaya aturannya, dengan bentuk lagu A-B-B′ yang terdiri atas delapan baris, delapan baris kali empat birama sama dengan 32 birama.
Bagi pemusik yang sudah memahami alurnya, mengiringi lagu-lagu keroncong sebenarnya tidaklah susah, karena pola akordnya berulang dan mudah diikuti. Inilah salah satu alasan keroncong bisa dimainkan oleh banyak kalangan, dari orkes profesional hingga kelompok pemula di lingkungan kampung.
Perjalanan Sejarah Keroncong
Perkembangan keroncong terbagi menjadi beberapa masa. Masa keroncong tempo doeloe berlangsung pada 1880 sampai 1920. Pada masa ini, Komedie Stamboel lahir di Surabaya pada tahun 1891 sebagai pertunjukan keliling di Hindia Belanda, Singapura, dan Malaya. Lagu-lagu Stambul I, Stambul II, dan Stambul III menjadi bentuk yang dikenal kala itu, dan Kusbini menyebutnya Keroncong Portugis, sedangkan Gesang menyebutnya Keroncong Cepat.
Baca Juga: Menonton Pertunjukan Wayang: Hiburan Tradisional yang Mendidik
Masa keroncong abadi berlangsung pada 1920 sampai 1960. Pada masa ini, panjang lagu berubah menjadi 32 birama karena pengaruh musik pop Amerika. Di sinilah nama Gesang bersinar lewat lagu “Bengawan Solo”, yang kemudian membuatnya dikenal luas bahkan hingga ke Jepang, dan mendapat julukan “Buaya Keroncong”. Lagu ini bercerita tentang sungai Bengawan Solo yang mengalir di wilayah Surakarta. Pada 1952, Radio Republik Indonesia menyelenggarakan perlombaan Bintang Radio dengan tiga jenis, yaitu Keroncong, Hiburan, dan Seriosa, yang semakin mengangkat pamor keroncong.
Masa keroncong modern berlangsung pada 1960 sampai 2000 dan ditandai banyaknya gaya baru. Langgam Jawa memadukan keroncong dengan tradisi gamelan dan dikenal lewat Anjar Any serta penyanyi Waldjinah. Keroncong Beat dimulai Yayasan Tetap Segar pimpinan Rudi Pirngadie di Jakarta pada 1959 dan bisa mengiringi lagu pop Barat. Campursari diperkenalkan Manthous di Gunung Kidul pada 1968 sebagai gabungan gamelan dan keroncong. Koes Plus berjasa dalam keroncong rock sekitar 1974, dan keroncong dangdut atau congdut dipopulerkan Didi Kempot lewat lagu “Stasiun Balapan” dan “Sewu Kutho”.
Keroncong di Masa Kini
Pada masa keroncong millenium, sejak tahun 2000, keroncong belum menjadi bagian besar dari industri musik arus utama, tetapi kelompok-kelompok keroncong berbasis komunitas, termasuk yang berbasis di Bandung, masih cukup aktif melakukan pertunjukan. Bondan Prakoso dan grupnya menciptakan komposisi berjudul “Keroncong Protol”, dan Congrock 17 menggabungkan musik rock dengan keroncong. Eksperimen seperti ini menunjukkan bahwa keroncong masih bisa berdialog dengan zaman.
Mengenal keroncong hari ini bukan sekadar nostalgia. Keroncong adalah bukti bahwa budaya Indonesia tumbuh dari perjumpaan, bukan dari keterisolasian. Dari fado Portugis di Ternate, ukulele Hawaii di Kampung Tugu, gamelan Jawa di Solo, hingga dangdut di Surakarta, keroncong menyerap semuanya dan tetap berakar di tanah sendiri. Selama masih ada yang memetik cuk dan menyanyikan lagu-lagu lamanya, keroncong akan tetap hidup.
Sumber:
Wikipedia bahasa Indonesia, Keroncong, https://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong
