Hikmah berbuat baik kepada tetangga dalam Islam menempati kedudukan yang sangat tinggi. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Filsuf Yunani Aristoteles menyebut manusia sebagai zoon politicon, makhluk yang pada dasarnya hidup bermasyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang paling dekat dengan kita setelah keluarga adalah tetangga: merekalah yang pertama kali mengetahui keadaan kita, menolong saat darurat, dan berbagi suka maupun duka.
Islam memberikan perhatian besar terhadap hubungan bertetangga. Rasulullah SAW mengaitkan sikap terhadap tetangga dengan keimanan seseorang. Beliau bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
Man kana yu’minu billahi wal-yaumil-akhir, falyukrim jaarah.
Artinya: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya.” Hadits ini menegaskan bahwa memuliakan tetangga bukan sekadar sopan santun, melainkan bagian dari iman itu sendiri.

Foto: TLK GentooExpressions / Pexels
Siapa yang Disebut Tetangga dalam Islam
Pengertian tetangga dalam Islam ternyata sangat luas. Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa istilah tetangga mencakup siapa saja yang tinggal berdekatan, baik muslim maupun nonmuslim, teman maupun orang yang tidak kita sukai, pendatang maupun penduduk asli, orang yang bermanfaat maupun orang yang pernah memberi mudharat, karib kerabat maupun orang lain, serta yang rumahnya paling dekat maupun yang agak jauh.
Dengan pengertian seluas itu, berbuat baik kepada tetangga tidak boleh dibatasi oleh perbedaan agama, suku, atau kedekatan pribadi. Selama seseorang tinggal berdekatan dengan kita, ia berhak mendapatkan perlakuan yang baik. Inilah ajaran Islam yang menempatkan kerukunan sebagai fondasi masyarakat yang damai.
Hikmah Berbuat Baik kepada Tetangga dan Keimanan
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah, tidak beriman…” Beliau menegaskan bahwa keimanan seseorang menjadi tidak sempurna apabila ia tidak mampu menahan keburukan terhadap tetangganya. Artinya, tetangga yang merasa terganggu, tersakiti, atau tidak aman karena ulah kita menjadi tanda bahwa iman kita masih perlu diperbaiki.
Hikmah dari ajaran ini sangat dalam. Iman bukan hanya urusan ibadah ritual di dalam masjid, melainkan juga tercermin dalam perilaku sosial sehari-hari. Seseorang yang rajin salat tetapi gemar mengganggu tetangga, membuang sampah sembarangan, atau bersuara keras hingga larut malam, sesungguhnya belum memahami iman secara utuh. Tetangga menjadi cermin kejujuran iman kita.
Baca Juga: Adab Berbicara dalam Islam: Jujur, Lembut, dan Menjaga Lisan
Baca Juga: Hikmah Tawakal dalam Bekerja: Berusaha Maksimal, Berserah kepada Allah
Menahan Diri dari Mengganggu Tetangga
Berbuat baik kepada tetangga tidak hanya berarti memberi, tetapi juga menahan diri dari mengganggu. Tidak membunyikan musik terlalu keras di malam hari, tidak memarkir kendaraan hingga menutup jalan tetangga, tidak membuang sampah ke pekarangan orang lain, dan tidak menyebarkan gosip tentang tetangga adalah bentuk kebaikan yang sama pentingnya dengan memberi bantuan. Tetangga yang merasa aman dan nyaman di lingkungannya akan lebih mudah menjalin hubungan yang hangat dan saling percaya.
Cara Memuliakan Tetangga Sehari-hari
Memuliakan tetangga dapat dimulai dari hal-hal kecil yang tampak sederhana. Menegur dan menyapa ketika bertemu, tersenyum ramah, serta menanyakan kabar adalah bentuk kebaikan yang tidak memerlukan biaya, tetapi besar maknanya. Sapaan hangat membuat lingkungan tempat tinggal terasa hidup dan saling peduli.
Bentuk lain adalah berbagi dan menolong saat kesusahan. Berbagi makanan dengan tetangga, membantu saat mereka sakit, atau sekadar menawarkan bantuan ketika mereka kesulitan merupakan amalan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Beliau pernah berpesan kepada Abu Dzar:
يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ
Ya Aba Dzarr, idza thabakhta maraqatan fa-aktsir maa-ahaa wa ta’aahad jiiranak.
Artinya: “Wahai Abu Dzar, apabila kamu memasak sayur (daging kuah) maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu.” Hadits riwayat Muslim ini mengajarkan bahwa berbagi makanan adalah cara sederhana untuk merawat hubungan bertetangga.
Teladan Abdullah bin Umar terhadap Tetangga Yahudi
Teladan indah tentang berbuat baik kepada tetangga datang dari sahabat Abdullah bin Umar RA. Beliau memiliki tetangga seorang Yahudi. Setiap kali beliau menyembelih kambing, beliau selalu berkata, “Angkatlah daging untuk tetangga Yahudi kami.” Kisah ini menunjukkan bahwa perbedaan agama tidak menghalangi seorang Muslim untuk berbuat baik kepada tetangganya.
Kisah Abdullah bin Umar menjadi bukti bahwa ajaran Islam tentang tetangga berlaku universal. Kebaikan kepada tetangga tidak memandang latar belakang, melainkan memandang kedekatan dan kebutuhan. Inilah akhlak mulia yang membuat Islam dikenal sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Hikmah Berbuat Baik kepada Tetangga bagi Masyarakat
Ketika setiap warga berbuat baik kepada tetangganya, masyarakat akan merasakan banyak hikmah. Pertama, tercipta rasa aman, karena tetangga yang saling peduli akan saling menjaga. Kedua, tumbuh rasa persaudaraan yang melampaui perbedaan. Ketiga, konflik antarwarga dapat dicegah sejak dini, karena masalah kecil diselesaikan dengan musyawarah, bukan permusuhan.
Sebaliknya, lingkungan yang abai terhadap tetangga akan dipenuhi kecurigaan dan perselisihan. Karena itu, berbuat baik kepada tetangga bukan hanya ibadah individu, melainkan juga investasi sosial yang menjaga keharmonisan kampung, perumahan, dan desa. Tetangga yang baik adalah nikmat yang patut disyukuri dan dijaga.
Sebagai penutup, mari kita mulai dari diri sendiri: sapa tetangga kita hari ini, tanyakan kabarnya, dan bantulah bila mereka membutuhkan. Dengan begitu, hikmah berbuat baik kepada tetangga dalam Islam tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi juga amalan nyata yang mendatangkan keberkahan bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar.
Sumber:
NU Online — Khutbah Jumat: Berbuat Baik Terhadap Tetangga — https://islam.nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-berbuat-baik-terhadap-tetangga-M6hS6






