Hikmah Menjaga Lisan: Diam yang Menyelamatkan dan Bicara yang Bermakna

Hikmah Menjaga Lisan: Diam yang Menyelamatkan dan Bicara yang Bermakna

Di antara semua anggota tubuh, lisan adalah yang paling kecil ukurannya, tetapi paling besar dampaknya. Satu kalimat yang terucap tanpa dipikirkan dapat melukai hati seseorang selama bertahun-tahun, merusak persahabatan yang dibangun puluhan tahun, bahkan menyeret pelakunya pada penyesalan yang panjang. Sebaliknya, satu ucapan yang baik dapat menghibur orang yang sedang berduka, mendamaikan pihak yang berselisih, dan membuka pintu kebaikan yang tidak terduga. Karena itulah, Islam menempatkan penjagaan lisan sebagai salah satu akhlak terpenting seorang Muslim.

Menjaga lisan bukan berarti membisu dan menutup diri dari pergaulan. Ia berarti menimbang setiap kata sebelum diucapkan: apakah ucapan ini benar, apakah bermanfaat, dan apakah waktunya tepat. Ketika jawabannya tidak, diam menjadi pilihan yang lebih mulia daripada berbicara. Para ulama sejak dahulu telah mengingatkan bahwa diam yang disertai perenungan jauh lebih berharga daripada banyak bicara yang kosong dari manfaat.

Hikmah Menjaga Lisan: Diam yang Menyelamatkan dan Bicara yang Bermakna
Foto: Chinmay Singh via Pexels

Nasihat Imam Syafi’i tentang Perkataan yang Bermanfaat

Imam Syafi’i pernah menyampaikan bahwa ada tiga hal yang dapat menambah kecerdasan seseorang: bergaul dengan para ulama, bergaul dengan orang-orang saleh, dan meninggalkan perkataan yang tidak bermanfaat. Pesan ini menarik karena menempatkan pengurangan bicara yang sia-sia sejajar dengan bergaul dengan orang-orang terbaik. Artinya, menjaga lisan bukan sekadar adab pergaulan, melainkan juga jalan menuju kejernihan pikiran dan keluasan ilmu.

Dalam nasihat yang lain, Imam Syafi’i berkata bahwa barangsiapa ingin Allah menerangi hatinya, hendaklah ia meninggalkan perkataan yang tidak bermanfaat baginya. Hati yang terus-menerus disibukkan oleh obrolan kosong akan sulit menerima cahaya ilmu dan ketenangan. Sebaliknya, hati yang dijaga dari kesia-siaan akan lebih mudah memahami kebenaran, lebih peka terhadap nasihat, dan lebih tenang dalam menghadapi persoalan hidup.

Pesan Umar bin Khattab: Berbicara Seperlunya

Khalifah Umar bin Khattab juga memberi pesan yang senada: janganlah berbicara tentang sesuatu yang tidak bermanfaat bagimu, jauhilah musuhmu, dan waspadalah terhadap temanmu. Nasihat ini mengajarkan kehati-hatian dalam tiga arah sekaligus. Berbicara hanya tentang hal yang bermanfaat menjaga waktu dan energi; menjauhi musuh menjaga keselamatan; dan waspada terhadap teman mengingatkan bahwa tidak semua yang dekat dengan kita layak dipercaya dengan segala rahasia. Ketiganya bermuara pada satu sikap: berpikir sebelum bertindak dan berbicara.

Baca Juga: Menjaga Hati dari Sombong: Rendah Hati yang Menenangkan dan Hikmah Berbagi Ilmu: Kebaikan yang Terus Mengalir.

Berkatalah yang Baik atau Diam

Puncak ajaran tentang menjaga lisan terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah dan tercantum dalam Shahih Bukhari dan Muslim: barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam. Hadits singkat ini menjadi timbangan praktis yang bisa dipakai setiap hari. Sebelum berbicara, tanyakan pada diri sendiri: apakah ucapan ini baik? Bila ya, ucapkanlah. Bila tidak, diam adalah jawabannya. Dengan timbangan ini, iman tidak hanya diukur dari ibadah ritual, tetapi juga dari cara seseorang mengelola kata-katanya.

Imam al-Ghazali menambahkan peringatan yang tajam: janganlah membesar-besarkan lisanmu, sehingga ia merusak urusanmu. Lisan yang dibiarkan liar akan membesar-besarkan masalah kecil, mengubah salah paham menjadi permusuhan, dan mengubah gosip menjadi fitnah. Banyak urusan yang sebenarnya sederhana menjadi rumit bukan karena masalahnya besar, melainkan karena kata-kata yang mengiringinya tidak terkendali.

Diam yang Menyingkirkan Setan

Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad disebutkan anjuran untuk lebih banyak diam, karena diam dapat menyingkirkan setan dan menolong seseorang terhadap urusan agamanya. Setan gemar memanfaatkan lisan yang tidak terjaga: melalui kata-kata, ia menyulut amarah, menumbuhkan prasangka, dan meretakkan hubungan. Diam yang disengaja, terutama ketika emosi sedang memuncak, memutus jalan itu. Ia memberi jeda bagi akal untuk bekerja dan bagi hati untuk kembali tenang sebelum memutuskan apa yang pantas diucapkan.

Melatih Lisan dalam Kehidupan Sehari-hari

Menjaga lisan dapat dilatih mulai dari hal-hal kecil. Pertama, biasakan jeda sejenak sebelum menjawab, terutama dalam perdebatan atau ketika sedang marah. Kedua, hindari membicarakan keburukan orang lain, karena ghibah merusak kepercayaan dan tidak memberi manfaat apa pun bagi pembicaranya. Ketiga, biasakan berkata jujur dengan cara yang lembut; kejujuran tidak harus disampaikan dengan kasar, dan kelembutan tidak berarti menyembunyikan kebenaran. Keempat, perbanyak zikir dan ucapan yang baik, sehingga lisan terbiasa mengucapkan hal-hal yang bermanfaat.

Pada akhirnya, lisan adalah cermin isi hati. Orang yang hatinya tenang dan bersih akan lebih mudah mengucapkan kata-kata yang menenangkan. Sebaliknya, hati yang gelisah dan penuh prasangka akan mudah melahirkan ucapan yang menyakitkan. Karena itu, menjaga lisan dimulai dari menjaga hati: dengan ilmu, dengan pergaulan yang baik, dan dengan meninggalkan kesia-siaan. Diam yang menyelamatkan dan bicara yang bermakna adalah dua sisi dari akhlak yang sama, dan keduanya akan mengantarkan pemiliknya pada ketenangan hidup di dunia serta keselamatan di akhirat.

Sumber

Sumber: NU Online, “Keutamaan Diam dan Menjaga Lisan menurut Islam”, https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/keutamaan-diam-dan-menjaga-lisan-menurut-islam-fOUru, 24 Desember 2023, Ahmad Hanan, diakses 5 November 2026.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *