Jalan raya adalah ruang bersama. Di sana, pengendara motor, mobil, bus, pejalan kaki, dan pesepeda berbagi ruang yang sama dengan tujuan yang berbeda-beda. Karena itu, berkendara bukan hanya soal keterampilan mengendalikan kendaraan, tetapi juga soal adab: kesabaran, ketertiban, dan saling menghormati. Pengendara yang beradab membuat jalan lebih aman dan nyaman bagi semua orang, sedangkan pengendara yang egois dapat membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.
Dalam Islam, adab dalam bermuamalah dan menjaga keselamatan sesama adalah bagian dari akhlak. Di jalan raya, adab itu tampak dalam hal-hal yang tampak sederhana: mematuhi rambu, memberi jalan, tidak membunyikan klakson berlebihan, dan tidak memaksakan diri menerobos antrean. Artikel ini membahas adab berkendara dari sisi sikap dan keselamatan, sejalan dengan ajakan Korlantas Polri tentang keselamatan berlalu lintas, agar setiap perjalanan menjadi lebih tenang dan selamat sampai tujuan.

Sabar dalam Kemacetan
Kemacetan adalah ujian kesabaran yang hampir setiap hari dihadapi pengendara di kota besar. Pengendara yang sabar tidak mudah terpancing emosi ketika antrean berjalan lambat, tidak memotong jalur dari bahu jalan, dan tidak membunyikan klakson terus-menerus. Kesabaran juga berarti menerima bahwa setiap orang di jalan memiliki kepentingan yang sama pentingnya: ada yang menuju tempat kerja, ada yang mengantar anak ke sekolah, dan ada yang menuju rumah sakit. Dengan bersabar, risiko kecelakaan akibat manuver terburu-buru dapat ditekan, dan suasana jalan menjadi lebih tenang.
Tertib: Patuhi Rambu dan Marka Jalan
Ketertiban dimulai dari hal-hal dasar: berhenti di lampu merah, tidak melawan arus, menggunakan lajur sesuai peruntukannya, dan memberi isyarat sebelum berbelok atau berpindah lajur. Rambu dan marka jalan dibuat bukan untuk membatasi, melainkan untuk mengatur agar semua pengguna jalan dapat bergerak dengan aman dan dapat diprediksi. Pengendara yang tertib memudahkan pengendara lain untuk mengantisipasi gerakannya, sehingga kecelakaan dapat dicegah. Sebaliknya, pelanggaran kecil seperti menerobos lampu merah atau tidak memberi isyarat dapat berakibat fatal bagi diri sendiri maupun orang lain.
Saling Menghormati Semua Pengguna Jalan
Saling menghormati berarti mengakui hak pengguna jalan lain. Beri prioritas kepada pejalan kaki di zebra cross, beri ruang kepada pesepeda, dan jangan menghalangi kendaraan darurat seperti ambulans dan pemadam kebakaran. Hormati pula pengendara yang lebih lambat, misalnya orang tua atau pengendara pemula, dengan tidak mengintimidasi mereka melalui klakson atau sorot lampu yang berlebihan. Di jalan, tidak ada yang lebih berhak daripada yang lain semata-mata karena kendaraannya lebih besar atau lebih mahal; keselamatan adalah hak semua orang.
Baca Juga: Tekanan Angin Ban: Detail Kecil yang Berpengaruh pada Kenyamanan Berkendara | 5 Tanda Ban Motor Harus Segera Diganti
Siapkan Kendaraan dan Diri Sebelum Berangkat
Adab berkendara juga mencakup persiapan. Periksa kondisi kendaraan sebelum berangkat: tekanan ban, rem, lampu, dan bahan bakar. Gunakan helm standar untuk pengendara motor dan sabuk pengaman untuk pengendara mobil, serta pastikan surat-surat dan SIM masih berlaku. Persiapkan diri dengan istirahat yang cukup, karena mengantuk di jalan sangat berbahaya. Berangkatlah lebih awal agar tidak terburu-buru; ketergesaan adalah salah satu penyebab utama pelanggaran dan kecelakaan.
Mengendalikan Emosi dan Tidak Membalas Keburukan
Tidak semua pengendara di jalan bersikap baik. Ada yang menyalip dengan kasar, ada yang tiba-tiba berhenti, dan ada yang berkata kasar. Dalam situasi seperti itu, adab mengajarkan untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan. Menahan diri dari adu mulut atau aksi balas dendam di jalan bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan. Jika terjadi perselisihan, selesaikan dengan tenang dan sesuai aturan, dan bila perlu libatkan petugas yang berwenang, daripada menyelesaikan sendiri dengan emosi.
Doa dan Ketenangan Sebelum Perjalanan
Banyak pengendara muslim membiasakan membaca doa sebelum bepergian dan menjaga ketenangan selama perjalanan. Doa mengingatkan bahwa keselamatan adalah karunia yang perlu disyukuri dan dijaga dengan ikhtiar, bukan sekadar harapan. Ketenangan batin yang lahir dari doa juga membantu pengendara tidak mudah tersulut emosi di jalan. Ketika hati tenang, keputusan di jalan menjadi lebih jernih: pengendara lebih mudah mengalah, lebih sabar mengantre, dan lebih waspada terhadap pengguna jalan lain. Dengan demikian, doa dan adab saling menguatkan: doa menenangkan hati, dan adab menjaga keselamatan bersama.
Berkendara sebagai Cermin Akhlak
Cara seseorang berkendara sering kali mencerminkan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari: apakah ia sabar, peduli pada orang lain, dan patuh pada aturan, atau justru egois dan mengabaikan keselamatan bersama. Jalan raya adalah tempat di mana akhlak diuji tanpa penonton dan tanpa pujian, karena tidak ada yang mengenal kita di sana. Karena itu, menjaga adab di jalan adalah latihan akhlak yang nyata: memberi jalan, bersabar, dan menghormati orang lain meski tidak dikenal dan tidak akan membalas kebaikan kita.
Penutup
Adab berkendara di jalan raya dapat diringkas dalam tiga kata: sabar, tertib, dan saling menghormati. Sabar menghadapi kemacetan, tertib mematuhi aturan, dan hormat kepada semua pengguna jalan. Jika ketiga hal ini diamalkan oleh semakin banyak pengendara, jalan raya akan menjadi tempat yang lebih aman, nyaman, dan manusiawi. Semoga setiap perjalanan kita diberkahi dan kita semua selamat sampai tujuan, serta kembali ke keluarga dalam keadaan baik.
Sumber:
- Korlantas Polri, Keselamatan Berlalu Lintas, diakses 4 November 2026
