Menelusuri Jejak Islam di Banten Lama: Wisata Sejarah yang Mendidik

Tidak jauh dari Kota Serang, terdapat kawasan yang menyimpan jejak kejayaan Islam Nusantara: Banten Lama. Di sini, reruntuhan keraton, masjid agung, dan makam-makam ulama berdiri sebagai saksi bahwa Banten pernah menjadi pusat perdagangan dan pusat penyebaran Islam yang penting di Asia Tenggara. Berwisata ke Banten Lama bukan sekadar berjalan-jalan, melainkan belajar sejarah secara langsung, dengan mata, kaki, dan hati.

Kesultanan Banten berawal sekitar tahun 1526, ketika Demak dan Cirebon memperluas pengaruhnya ke pesisir barat laut Pulau Jawa, dan Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati, berperan dalam penaklukan di Teluk Banten serta membangun benteng pertahanan Surosowan pada 1552. Kesultanan ini kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan besar dengan ekspor unggulan lada, mencapai puncak kejayaan pada akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17, sebelum akhirnya dianeksasi ke Hindia Belanda pada 1813. Hari ini, Banten Lama, terutama Masjid Agung Banten, menjadi tujuan penting bagi wisatawan dan peziarah dari seluruh Indonesia dan luar negeri.

Menara masjid bersejarah dengan langit berawan
Menara masjid bersejarah menjulang dengan langit berawan, mengingatkan pada warisan arsitektur Islam masa lalu. Foto: Talha Kuğu / Pexels.

Masjid Agung Banten: Jantung Kawasan

Titik awal yang paling tepat untuk menelusuri Banten Lama adalah Masjid Agung Banten. Masjid ini dibangun pada masa Kesultanan Banten dan menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus pusat kota. Di sekitarnya terdapat alun-alun, pasar, dan kompleks keraton, sesuai pola kota Islam masa lalu yang menempatkan masjid sebagai pusat kehidupan. Menara masjid yang berbentuk seperti mercusuar konon juga berfungsi sebagai menara pengawas untuk melihat kedatangan kapal di pelabuhan, sebuah bukti bahwa Banten adalah kota maritim yang terbuka pada dunia.

Saat berkunjung, luangkan waktu untuk mengamati detail bangunannya: bentuk atap, tiang-tiang, dan ornamen yang memadukan pengaruh lokal dan asing. Masjid yang masih aktif digunakan ini mengingatkan bahwa Banten Lama bukan sekadar museum terbuka, melainkan tempat ibadah yang hidup. Pengunjung diimbau menjaga adab: berpakaian sopan, menjaga ketenangan, dan menghormati jemaah yang sedang beribadah.

Keraton Surosowan dan Benteng Speelwijk

Di dekat masjid, terdapat reruntuhan Keraton Surosowan, istana Kesultanan Banten yang dikelilingi tembok dan parit. Meski kini hanya tersisa sebagian dinding dan fondasi, membayangkan luas dan kemegahan istana pada masa kejayaannya sudah cukup untuk memberi gambaran tentang kekuatan Banten sebagai pusat perdagangan. Di kawasan yang sama, terdapat pula Benteng Speelwijk, benteng peninggalan Belanda yang menjadi saksi persaingan dan konflik pada masa kolonial.

Berjalan di antara reruntuhan ini adalah pelajaran sejarah yang tidak didapat dari buku semata. Anak-anak dapat diajak membayangkan bagaimana kapal-kapal dagang dari Persia, India, Siam, Tiongkok, dan Jepang singgah di pelabuhan Banten, bagaimana lada menjadi komoditas yang diperebutkan, dan bagaimana para sultan, ulama, dan syahbandar mengatur kota yang multi-etnis ini. Sejarah menjadi hidup ketika dibayangkan di tempatnya langsung.

Baca Juga: 5 Destinasi Wisata Sejarah di Jawa Timur yang Layak Dikunjungi | Menjelajahi Kota Lama dengan Berjalan Kaki: Pelan, Dekat, dan Berkesan

Makam dan Ziarah: Menghormati Para Pendahulu

Banten Lama juga dikenal sebagai tujuan ziarah. Di kawasan ini terdapat makam-makam sultan dan ulama, termasuk kompleks pemakaman yang diziarahi banyak peziarah. Bagi pengunjung muslim, ziarah dapat menjadi pengingat tentang kematian dan tentang jasa para pendahulu dalam menyebarkan Islam di Nusantara. Ziarahlah dengan adab: menjaga kesopanan, tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syariat, dan mendoakan para pendahulu dengan cara yang sesuai tuntunan.

Tips Berwisata ke Banten Lama

Agar kunjungan lebih nyaman dan mendidik, datanglah pada pagi hari saat cuaca belum terlalu terik, kenakan alas kaki yang nyaman karena kawasan ini paling enak dijelajahi dengan berjalan kaki, dan bawalah air minum. Gunakan pemandu lokal bila tersedia, karena penjelasan mereka sering kali menambah pemahaman tentang cerita di balik setiap bangunan. Jangan lupa menjaga kebersihan dan tidak merusak situs: jangan mencoret dinding, memanjat reruntuhan, atau mengambil benda-benda bersejarah sebagai suvenir. Situs sejarah adalah warisan bersama yang harus dijaga untuk generasi berikutnya.

Pelajaran dari Banten Lama

Banten Lama mengajarkan tiga hal penting. Pertama, Islam di Nusantara disebarkan melalui perdagangan, dakwah, dan peradaban, bukan hanya melalui peperangan. Kedua, kejayaan sebuah kota dibangun oleh keterbukaan, kerja keras, dan tata kelola yang baik, tetapi dapat runtuh oleh konflik internal dan tekanan kolonial, sebagaimana dialami Banten pada masa-masa akhirnya. Ketiga, menjaga warisan sejarah adalah bagian dari menjaga identitas: ketika kita mengenal Banten Lama, kita mengenal akar kita sendiri sebagai bangsa yang pernah menjadi pusat peradaban maritim.

Penutup

Menelusuri jejak Islam di Banten Lama adalah wisata yang mendidik: ia mengajak kita berjalan di antara masjid, keraton, dan benteng, sambil merenungkan perjalanan Islam di Nusantara. Ajaklah keluarga, terutama anak-anak, agar mereka tumbuh dengan kebanggaan pada sejarah bangsanya dan dengan pemahaman bahwa peradaban dibangun oleh ilmu, dagang yang jujur, dan akhlak yang baik. Banten Lama menanti, bukan hanya untuk dikunjungi, tetapi untuk dipelajari dan dijaga.

Sumber:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *