Adab Bertamu dalam Islam: Aturan Berkunjung dan Menerima Tamu

Adab Bertamu dalam Islam: Aturan Berkunjung dan Menerima Tamu

Bertamu adalah salah satu bentuk silaturahmi yang sangat penting dalam Islam. Mengunjungi kerabat, sahabat, tetangga, atau guru mempererat hubungan dan menumbuhkan kasih sayang di antara sesama muslim. Namun, bertamu bukan sekadar datang dan duduk, ada adab yang mengaturnya, dan adab tersebut bukan sekadar sopan santun, melainkan bagian dari akhlak mulia yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan sunah Rasulullah SAW. Demikian pula tuan rumah, memiliki adab tersendiri dalam menerima tamu. Kedua sisi adab ini saling melengkapi, sehingga kunjungan menjadi berkah bagi tamu maupun tuan rumah.

Dalil tentang adab bertamu dalam Al-Qur’an termaktub dalam surat An-Nur ayat 27, ketika Allah SWT berfirman bahwa orang-orang yang beriman tidak boleh memasuki rumah yang bukan rumahnya sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya, karena yang demikian itu lebih baik bagi mereka, agar mereka selalu ingat. Ayat berikutnya, An-Nur ayat 28, melanjutkan: jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu “Kembalilah”, maka hendaklah kamu kembali. Yang demikian itu lebih bersih bagimu. Dua ayat ini menjadi landasan utama seluruh adab bertamu: meminta izin, memberi salam, dan menerima penolakan dengan lapang dada.

Bacaan Lainnya

Tiga orang saling menyapa hangat di depan pintu rumah. Foto: RDNE Stock project via Pexels.

Adab Bertamu dalam Islam

1. Memilih waktu berkunjung
Ketika seorang muslim hendak bertamu, usahakan memilih waktu yang tepat. Sebelum mendatangi rumah seseorang, sebaiknya beri kabar terlebih dahulu, agar tuan rumah dapat mempersiapkan diri dan waktu luangnya. Hindari bertamu saat malam hari, karena kemungkinan bisa mengganggu waktu istirahat pemilik rumah. Berkunjung pada waktu yang tidak tepat, seperti saat makan, saat tuan rumah sedang sibuk, atau di tengah malam, dapat membuat kunjungan yang niatnya baik justru menjadi beban.

2. Mengucapkan salam dan meminta izin
Mengucapkan salam adalah bentuk doa dan penghormatan kepada tuan rumah, sekaligus tanda bahwa kedatangan kita membawa kebaikan. Selain salam, penting juga untuk meminta izin terlebih dahulu sebelum masuk. Jika tidak diizinkan, maka harus pula diterima dengan lapang hati, sebagaimana ditegaskan oleh surat An-Nur ayat 28. Seorang tamu yang baik tidak memaksakan diri masuk ketika tuan rumah belum memberi izin, dan tidak menyimpan prasangka buruk ketika permintaannya tidak dikabulkan.

Baca Juga: Keutamaan Shalat Tahajud: Ketenangan di Sepertiga Malam

Baca Juga: Keutamaan Shalat Berjamaah di Masjid: Pahala, Ukhuwah, dan Kedisiplinan

3. Tidak mengintip ke dalam rumah
Islam melarang keras mengintip ke dalam rumah orang lain tanpa izin, karena hal itu melanggar privasi. Seorang tamu hendaknya menunggu di luar dengan tenang, tidak memandang ke dalam melalui celah pintu atau jendela, dan tidak berusaha melihat-lihat keadaan di dalam rumah. Privasi tuan rumah adalah hak yang wajib dihormati, bahkan oleh tamu yang datang dengan niat baik.

4. Tidak berlama-lama
Tamu hendaknya memahami kondisi tuan rumah dan tidak berlama-lama hingga menyulitkan. Hal ini sesuai dengan adab yang dicontohkan dalam Al-Qur’an, surat Al-Ahzab ayat 53, yang berbunyi: “…maka apabila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan…” Seorang tamu yang bijak membaca situasi: jika tuan rumah tampak sibuk atau lelah, segeralah pamit. Kunjungan yang singkat tetapi berkesan jauh lebih baik daripada kunjungan yang panjang tetapi memberatkan.

5. Menjaga sikap dan perkataan
Selama bertamu, bersikaplah sopan, tidak berkata kasar, serta menjaga pandangan dan perilaku. Seorang tamu tidak sepatutnya mengomentari keadaan rumah, mengkritik hidangan, atau membicarakan hal-hal yang menyinggung perasaan tuan rumah. Sikap yang tenang dan ucapan yang baik membuat tuan rumah merasa dihargai dan kunjungan pun menjadi menyenangkan bagi kedua belah pihak.

Adab Menerima Tamu dalam Islam

Selain tamu, tuan rumah juga memiliki adab yang harus diperhatikan. Yang pertama adalah menyambut dengan ramah. Menyambut tamu dengan wajah cerah dan penuh keramahan merupakan bagian dari akhlak mulia. Senyuman dan sambutan yang hangat membuat tamu merasa diterima dan dihormati, bahkan sebelum hidangan disajikan.

Yang kedua adalah memuliakan tamu. Dalam hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR Bukhari dan Muslim). Memuliakan tamu dapat dilakukan dengan menyuguhkan makanan, minuman, dan pelayanan yang baik. Memuliakan tamu adalah tanda iman, sehingga tuan rumah hendaknya melakukannya dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar basa-basi.

Yang ketiga adalah menyuguhkan hidangan semampunya. Tidak perlu berlebihan, tetapi cukup sesuai kemampuan. Teladan ini dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS, ketika utusan-utusan Allah datang membawa kabar gembira, beliau menyambut mereka dan kemudian menyuguhkan anak sapi yang telah dipanggang. Semampunya yang dimaksud adalah menyajikan yang terbaik dari apa yang dimiliki, tanpa memaksakan diri hingga memberatkan keluarga.

Yang keempat adalah mengantar tamu saat pulang. Sebagian ulama menganjurkan mengantar tamu hingga pintu sebagai bentuk penghormatan. Dengan mengantar tamu, tuan rumah menunjukkan bahwa kehadiran tamu benar-benar dihargai dari awal hingga akhir. Dalam Islam, terdapat pula batas waktu dalam menjamu tamu, sebagaimana disebutkan dalam hadis bahwa hak tamu itu tiga hari, setelah itu jamuan yang diberikan terhitung sebagai sedekah. Batas ini menunjukkan bahwa Islam mengatur kedua belah pihak secara adil: tamu tidak membebani tuan rumah tanpa batas, dan tuan rumah pun tidak diwajibkan menjamu tanpa batas.

Bertamu dan menerima tamu adalah dua sisi dari satu silaturahmi. Ketika tamu datang dengan adab, dan tuan rumah menyambut dengan adab, kunjungan menjadi ibadah yang mendatangkan pahala dan mempererat persaudaraan. Sebaliknya, kunjungan tanpa adab dapat menimbulkan kesalahpahaman dan merenggangkan hubungan. Maka dari itu, mari kita biasakan adab-adab ini dalam kehidupan sehari-hari: pilih waktu yang tepat, ucapkan salam dan minta izin, hormati privasi tuan rumah, jangan berlama-lama, jaga sikap dan ucapan, sambut tamu dengan ramah, muliakan tamu, suguhkan hidangan semampunya, dan antarlah tamu saat pulang. Dengan begitu, setiap kunjungan menjadi kebaikan yang dikenang.

Sumber:
detikHikmah – “Adab Bertamu dan Menerima Tamu dalam Islam” (Devi Setya, 25 Mar 2026): https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8413605/adab-bertamu-dan-menerima-tamu-dalam-islam

Pos terkait