Keutamaan Menjaga Silaturahmi dalam Islam

Keutamaan Menjaga Silaturahmi dalam Islam

Di tengah kesibukan hidup modern, hubungan dengan kerabat sering kali menjadi hal pertama yang terabaikan. Pesan yang tak terbalas, kunjungan yang terus ditunda, dan jarak yang semakin jauh perlahan-lahan merenggangkan ikatan keluarga. Padahal, dalam Islam, menjaga silaturahmi bukan sekadar sopan santun sosial, melainkan ibadah yang memiliki keutamaan besar.

Silaturahmi berasal dari kata “shilah” yang berarti hubungan, dan “ar-rahim” yang berarti kasih sayang atau rahim. Secara sederhana, silaturahmi adalah upaya menyambung dan memelihara hubungan kasih sayang dengan kerabat, baik melalui kunjungan, komunikasi, bantuan, maupun doa. Menjaga hubungan ini diperintahkan dalam Al-Qur’an dan hadis, dan memutuskannya termasuk perbuatan yang tercela.

Keutamaan Menjaga Silaturahmi dalam Islam
Anggota keluarga berbincang sambil tersenyum di halaman belakang. Foto: Askar Abayev via Pexels.

Allah Ta’ala memuji orang-orang yang memelihara hubungan yang diperintahkan untuk disambung. Dalam Surah Ar-Ra’d ayat 21, Allah berfirman tentang sifat orang-orang yang beruntung: mereka adalah orang-orang yang menyambung apa yang diperintahkan Allah untuk disambung, takut kepada Rabb mereka, dan takut kepada hisab yang buruk. Ayat ini menempatkan silaturahmi sejajar dengan ketakwaan dan rasa takut kepada Allah.

1. Silaturahmi Membuka Pintu Rezeki dan Memanjangkan Umur

Keutamaan silaturahmi yang paling dikenal datang dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang senang dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (nomor 5986).

Hadis ini menunjukkan bahwa silaturahmi bukan hanya bernilai pahala di akhirat, tetapi juga membawa keberkahan dalam kehidupan dunia. Rezeki yang lapang dan umur yang panjang dalam hadis ini dipahami para ulama sebagai keberkahan: rezeki yang cukup dan bermanfaat, serta umur yang diisi dengan amal kebaikan. Hubungan yang baik dengan kerabat sering kali menjadi jalan datangnya pertolongan, informasi, dan peluang yang tidak terduga.

2. Silaturahmi Mempererat Ukhuwah dan Menenangkan Hati

Selain keberkahan rezeki, silaturahmi mempererat persaudaraan dan menenangkan hati. Keluarga yang saling mengunjungi dan saling peduli akan lebih mudah menghadapi kesulitan bersama. Beban yang berat terasa lebih ringan ketika ada kerabat yang mendengarkan, mendoakan, dan membantu.

Sebaliknya, memutus hubungan dengan kerabat menumbuhkan kesepian, prasangka, dan permusuhan yang berkepanjangan. Al-Qur’an mengingatkan bahwa orang-orang yang melanggar perjanjian Allah dan memutuskan apa yang diperintahkan untuk disambung akan mendapatkan laknat dan tempat kembali yang buruk. Peringatan ini menegaskan bahwa silaturahmi bukan perkara sepele dalam timbangan agama.

Baca Juga: Majelis Ilmu dan Ketenangan Hati: Keutamaan Duduk di Majelis Ilmu bagi Seorang Muslim dan Menjaga Akhlak di Media Sosial: Adab Berinteraksi bagi Muslim Masa Kini

3. Cara Menjaga Silaturahmi di Tengah Kesibukan

Menjaga silaturahmi tidak selalu membutuhkan waktu dan biaya besar. Hal-hal kecil yang dilakukan dengan konsisten justru yang paling bermakna. Pertama, sempatkan mengunjungi kerabat, terutama orang tua dan kerabat yang sudah lanjut usia. Kunjungan langsung menunjukkan perhatian yang tidak tergantikan oleh pesan singkat.

Kedua, manfaatkan komunikasi yang tersedia: telepon, pesan, atau panggilan video untuk menanyakan kabar kerabat yang jauh. Ketiga, berikan bantuan sesuai kemampuan, baik berupa harta, tenaga, maupun sekadar doa yang tulus. Keempat, maafkan kesalahan kerabat dan dahulukan rekonsiliasi daripada gengsi. Sering kali, silaturahmi yang putus bukan karena tidak ada sarana, melainkan karena tidak ada yang mau memulai.

4. Silaturahmi dan Adab Berinteraksi

Silaturahmi juga memiliki adab yang perlu dijaga. Berkunjunglah pada waktu yang tepat, bawalah sikap yang menyenangkan, hindari membicarakan aib kerabat, dan jangan menjadikan pertemuan keluarga sebagai ajang pamer atau perdebatan. Tujuan silaturahmi adalah menyambung kasih sayang, bukan menambah luka.

Di era media sosial, silaturahmi dapat dijaga lewat cara-cara baru, tetapi adabnya tetap sama: menjaga lisan, menghormati perbedaan pendapat, dan mengutamakan tabayyun sebelum menyebarkan kabar. Teknologi seharusnya mendekatkan, bukan menjadi sarana baru untuk saling menyakiti.

5. Memutus Silaturahmi: Peringatan yang Tegas

Sebagaimana menjaga silaturahmi mendatangkan keutamaan, memutuskannya pun mendatangkan peringatan yang tegas. Dalam rangkaian ayat yang sama pada Surah Ar-Ra’d, Allah menjelaskan kebalikan dari sifat orang-orang yang beruntung: mereka yang melanggar perjanjian Allah setelah diteguhkan, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambung, dan berbuat kerusakan di muka bumi — bagi merekalah laknat dan tempat kembali yang buruk.

Peringatan ini patut direnungkan, terutama ketika perselisihan keluarga dibiarkan berlarut-larut karena persoalan warisan, ucapan yang menyakitkan, atau kesalahpahaman yang tidak pernah diklarifikasi. Banyak hubungan keluarga yang putus bukan karena persoalan besar, melainkan karena kedua pihak sama-sama menunggu pihak lain yang memulai. Padahal, dalam timbangan agama, pihak yang memulai rekonsiliasi adalah pihak yang lebih utama.

6. Memulai dari Rumah Sendiri

Silaturahmi yang paling utama dimulai dari lingkaran terdekat: orang tua, saudara kandung, dan kerabat dekat. Berbakti kepada orang tua dan menyayangi saudara adalah fondasi bagi hubungan yang lebih luas dengan kerabat lainnya. Dari rumah yang hangat, akan lahir pribadi yang mudah menyambung hubungan dengan siapa pun.

Jadikan silaturahmi sebagai kebiasaan, bukan sekadar agenda tahunan saat hari raya. Kunjungan rutin, kabar yang ditanyakan secara berkala, dan doa yang dipanjatkan untuk kerabat adalah bentuk-bentuk silaturahmi yang dapat dilakukan sepanjang tahun. Dengan begitu, hubungan keluarga tetap hidup dan hangat, bukan hanya sekadar formalitas.

Penutup

Keutamaan menjaga silaturahmi dalam Islam begitu besar: ia mendatangkan keberkahan rezeki, memanjangkan umur dalam keberkahan, mempererat persaudaraan, dan menenangkan hati. Sebaliknya, memutuskannya adalah perbuatan yang diperingatkan dengan keras dalam Al-Qur’an.

Maka, jangan tunda lagi. Teleponlah orang tua Anda hari ini, kunjungi kerabat yang sudah lama tidak Anda temui, dan maafkanlah perselisihan yang selama ini mengganjal. Silaturahmi yang Anda sambung hari ini bisa menjadi jalan keberkahan yang tidak Anda duga esok hari.

Sumber:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *