Buletin Islam — Shalat Dhuha adalah salah satu shalat sunnah yang paling dikenal dan paling banyak diamalkan oleh umat Islam. Secara bahasa, kata dhuha berarti awal siang atau waktu pagi. Shalat ini dikerjakan di waktu dhuha, yaitu sejak matahari terbit hingga menjelang waktu Zuhur, dan memiliki keutamaan yang sangat besar sebagaimana dijelaskan dalam hadis-hadis Rasulullah saw.
Rasulullah saw sangat menganjurkan umatnya untuk melaksanakan shalat Dhuha. Waktu terbaik untuk mengerjakannya adalah ketika matahari mulai terasa panas, yaitu pada saat anak-anak unta mulai merasakan panasnya terik. Di waktu inilah shalat Dhuha disebut sebagai shalatnya kaum awwabin, yaitu orang-orang yang senantiasa kembali kepada Allah.

Shalat Dhuha bukanlah ibadah kecil yang bisa diremehkan. Ada tiga keutamaan besar yang disebutkan dalam hadis: shalat Dhuha menjadi sedekah untuk setiap sendi tubuh, shalat Dhuha adalah shalatnya kaum awwabin, dan setiap jumlah rakaatnya membawa keutamaan tersendiri, hingga dua belas rakaat yang dijanjikan sebuah istana di surga.
Baca Juga: Keutamaan Shalat Tahajud: Ketenangan di Sepertiga Malam | Keutamaan Shalat Berjamaah di Masjid: Pahala, Ukhuwah, dan Kedisiplinan
Shalat Dhuha sebagai Sedekah untuk Setiap Sendi
Keutamaan pertama shalat Dhuha adalah karena ia menjadi sedekah untuk setiap persendian tubuh. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah saw bersabda bahwa pada setiap pagi, setiap persendian seseorang wajib bersedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, mengajak kepada kebaikan adalah sedekah, dan mencegah kemungkaran adalah sedekah.
Namun, dua rakaat shalat Dhuha dapat mencukupi semua sedekah tersebut. Hadis ini menunjukkan betapa mudahnya jalan untuk bersedekah dan betapa besarnya keutamaan shalat Dhuha. Dengan mengerjakan dua rakaat saja di pagi hari, seorang muslim telah menunaikan sedekah untuk seluruh sendi tubuhnya.
Shalatnya Kaum Awwabin
Keutamaan kedua adalah bahwa shalat Dhuha merupakan shalatnya kaum awwabin. Awwab adalah orang yang banyak kembali kepada Allah, yaitu orang yang senantiasa bertaubat dan mendekatkan diri kepada-Nya. Rasulullah saw bersabda bahwa tidak ada yang senantiasa menjaga shalat Dhuha kecuali ia adalah orang yang kembali kepada Allah.
Dalam hadis lain disebutkan bahwa shalatnya para awwabin adalah ketika anak-anak unta merasakan panasnya terik matahari. Artinya, waktu yang paling utama untuk shalat Dhuha adalah ketika matahari sudah naik dan mulai terasa panas, yaitu menjelang siang. Di waktu inilah shalat Dhuha memiliki nilai yang paling besar.
Keutamaan Setiap Jumlah Rakaat
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa keutamaan shalat Dhuha berbeda-beda sesuai dengan jumlah rakaatnya. Barangsiapa yang shalat Dhuha dua rakaat, ia tidak dicatat sebagai orang yang lalai. Barangsiapa yang shalat Dhuha empat rakaat, ia dicatat sebagai ahli ibadah.
Barangsiapa yang shalat Dhuha enam rakaat, ia dicatat sebagai hamba yang mendapatkan kecukupan dari Allah. Barangsiapa yang shalat Dhuha delapan rakaat, ia dicatat sebagai orang yang taat. Dan barangsiapa yang shalat Dhuha dua belas rakaat, maka dibangunkan untuknya sebuah istana di surga. Riwayat ini menunjukkan bahwa semakin banyak rakaat yang dikerjakan, semakin besar pula keutamaannya.
Waktu dan Tata Cara Shalat Dhuha
Waktu shalat Dhuha dimulai sejak matahari terbit setinggi tombak hingga sebelum waktu Zuhur. Jumlah rakaatnya paling sedikit dua rakaat dan paling banyak dua belas rakaat, dengan salam pada setiap dua rakaat. Dianjurkan untuk membaca surah Asy-Syams dan Ad-Dhuha pada rakaat pertama dan kedua, atau surah Al-Kafirun dan Al-Ikhlas.
Niat shalat Dhuha adalah sebagai berikut: “Ushalli sunnatad dhuha rak’ataini lillahi ta’ala”, yang artinya, “Aku berniat shalat sunnah Dhuha dua rakaat karena Allah Ta’ala.” Tata cara pelaksanaannya sama seperti shalat sunnah pada umumnya, dengan takbiratul ihram, membaca surah Al-Fatihah, ruku, sujud, dan diakhiri dengan salam.
Doa Setelah Shalat Dhuha
Setelah selesai shalat Dhuha, dianjurkan untuk membaca doa. Doa yang pertama adalah: “Allahumma innad dhuha-a dhuha-uka, wal baha-a baha-uka, wal jamala jamaluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ‘ishmata ‘ishmatuka.” Artinya: “Wahai Tuhanku, sungguh dhuha ini adalah dhuha-Mu, keagungan ini adalah keagungan-Mu, keindahan ini adalah keindahan-Mu, kekuatan ini adalah kekuatan-Mu, kekuasaan ini adalah kekuasaan-Mu, dan penjagaan ini adalah penjagaan-Mu.”
Doa yang kedua adalah: “Allahumma bika ushawilu, wa bika uhawilu, wa bika uqatilu.” Artinya: “Dengan-Mu, aku menerjang. Dengan-Mu, aku berupaya. Dengan-Mu, aku berjuang.” Sedangkan doa yang ketiga, yaitu “Rabbighfir li, warhamni, wa tub ‘alayya, innaka antat tawwabur rahim” yang artinya “Wahai Tuhanku, ampunilah aku, kasihanilah aku, dan terimalah taubatku. Sungguh Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”, dianjurkan dibaca sebanyak empat puluh atau seratus kali.
Dengan keutamaan yang begitu besar, shalat Dhuha sangat layak dijadikan amalan harian. Hanya dengan beberapa rakaat di pagi hari, seorang muslim telah bersedekah untuk seluruh sendi tubuhnya, menjadi bagian dari kaum awwabin, dan dijanjikan pahala yang besar di sisi Allah. Semoga kita termasuk orang-orang yang istiqamah dalam mengerjakan shalat Dhuha.
Sumber: NU Online — Tata Cara Shalat Dhuha dan Keutamaannya — https://nu.or.id/syariah/tata-cara-shalat-dhuha-dan-keutamaannya-dM81x





