Berikut teks khutbah Jumat tentang kedermawanan dan sedekah, lengkap dengan khutbah pertama dan khutbah kedua. Khutbah ini mengajak kita memahami bahwa sedekah tidak mengurangi harta, melainkan melipatgandakannya di sisi Allah, dan bahwa kedermawanan adalah akhlak yang dicintai Allah dan manusia.
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 261: مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ. Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Allah menggambarkan pahala sedekah dengan perumpamaan yang sangat indah: sebutir benih yang ditanam di tanah yang subur menumbuhkan tujuh tangkai, dan pada setiap tangkai ada seratus biji, sehingga jumlah keseluruhannya menjadi tujuh ratus. Bahkan Allah terus melipatgandakan pahala kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat atau lebih bagi siapa yang Dia kehendaki, sesuai tingkat keimanan dan keikhlasan hati yang berinfak. Sedekah yang sedikit, bila dilakukan dengan ikhlas, dapat berbuah pahala yang sangat besar.
Kedermawanan adalah sifat yang dicintai Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan, terutama di bulan Ramadan. Beliau bersabda, “Ma naqashat shadaqatun min mal”, yang artinya, “Sedekah tidaklah mengurangi harta” (HR Muslim). Hadis ini menepis ketakutan yang sering menghambat orang untuk bersedekah: rasa takut menjadi miskin. Yang berkurang hanyalah angka di rekening, tetapi yang bertambah adalah keberkahan, ketenangan hati, dan pahala di akhirat.
Baca Juga: Hikmah Senyuman: Sedekah Paling Ringan yang Bisa Mengubah Hari Seseorang
Sedekah tidak selalu berupa uang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tabassumuka fi wajhi akhika shadaqah”, yang artinya, “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah” (HR Tirmidzi). Menyingkirkan duri dari jalan, menolong orang yang kesulitan, mengajarkan ilmu, dan memberikan nasihat yang baik, semuanya terhitung sedekah. Sedekah adalah bahasa kebaikan yang bisa dituturkan siapa saja, kaya atau miskin, karena Allah menilai ketulusan, bukan besarnya jumlah.
Sedekah juga memiliki dua bentuk dalam pelaksanaannya. Ada sedekah yang dilakukan secara terang-terangan untuk mengajak orang lain berbuat baik, dan ada sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi yang lebih menjaga keikhlasan. Di antara tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya, adalah orang yang bersedekah dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan tangan kanannya. Rahasia dalam bersedekah menjaga hati dari riya dan menjaga harga diri orang yang menerima.
Sedekah yang paling istimewa adalah sedekah jariyah, yang pahalanya terus mengalir meski pemberinya sudah meninggal dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa ketika anak Adam meninggal, seluruh amalnya terputus kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya (HR Muslim). Membangun masjid, menggali sumur, mewakafkan tanah, dan menyebarkan ilmu adalah contoh sedekah jariyah yang manfaatnya dirasakan banyak orang dalam waktu yang panjang.
Sebaliknya, sifat bakhil adalah sifat yang tercela. Orang yang kikir menyimpan hartanya untuk dirinya sendiri, tetapi sebenarnya ia menyimpan penyesalan. Harta yang tidak disedekahkan akan menjadi beban di akhirat, sedangkan harta yang disedekahkan menjadi bekal yang menanti di sana. Allah berfirman bahwa orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah akan mendapatkan pahala yang berlipat, dan orang yang menahan hartanya akan merasakan akibatnya sendiri.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Aku berkata demikian, dan aku memohon ampunan Allah Yang Maha Agung untukku dan untuk kalian. Maka mohonlah ampunan kepada-Nya, sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Marilah kita biasakan bersedekah, sedikit demi sedikit, secara rutin, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah, karena sedekah justru yang membuka pintu rezeki. Mulailah dari yang terdekat: keluarga, tetangga, dan orang yang membutuhkan di sekitar kita. Jadikan sedekah sebagai kebiasaan, bukan sekadar sesekali, agar ia menjadi bagian dari akhlak kita sehari-hari.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Keutamaan Shalat Berjamaah dan Memakmurkan Masjid
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan doa. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa api neraka.
Sumber:
Quran NU Online, Surat Al-Baqarah Ayat 261, https://quran.nu.or.id/al-baqarah/261
