Keutamaan Menuntut Ilmu

Keutamaan Menuntut Ilmu

Islam menempatkan ilmu pada kedudukan yang sangat tinggi. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diawali dengan perintah membaca, “Iqra”. Perintah itu menjadi isyarat bahwa jalan menuju iman yang kokoh dimulai dari ilmu. Menuntut ilmu dalam Islam bukan sekadar urusan sekolah atau gelar, melainkan ibadah yang pahalanya terus mengalir sepanjang hayat.

Al-Qur’an menegaskan keistimewaan orang yang berilmu. Dalam Surat Al-Mujadalah ayat 11, Allah berfirman, “Yarfa‘illâhulladzîna âmanû minkum walladzîna ûtul ‘ilma darajât”, yang artinya, “Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” Derajat yang dimaksud di sini bukanlah pangkat di dunia, melainkan kemuliaan di sisi Allah. Ilmu yang disertai iman membuat seseorang lebih mulia daripada orang yang berilmu tanpa iman, dan lebih mulia pula daripada orang yang beriman tanpa ilmu.

Bacaan Lainnya
Seseorang membaca Al-Qur’an di dalam masjid. Foto: Emre Ateşoğlu / Pexels.

Menuntut Ilmu adalah Kewajiban

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Thalabul ‘ilmi farîdhatun ‘alâ kulli muslim”, yang artinya, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim” (HR Ibnu Majah). Hadis ini menunjukkan bahwa belajar bukan pilihan yang boleh ditinggalkan, melainkan kewajiban yang melekat pada setiap muslim, laki-laki maupun perempuan, muda maupun tua. Kewajiban itu tidak berhenti setelah lulus sekolah atau meraih gelar, karena ilmu terus berkembang dan kebutuhan manusia akan ilmu tidak pernah selesai.

Ilmu yang wajib dipelajari pertama-tama adalah ilmu yang membuat ibadah seseorang menjadi benar, seperti cara bersuci, shalat, dan membaca Al-Qur’an. Setelah itu, ilmu-ilmu lain yang bermanfaat bagi kehidupan, seperti kedokteran, pertanian, teknologi, dan perdagangan, juga bernilai tinggi selama diniatkan untuk kemaslahatan umat. Seorang dokter yang menolong pasien, seorang guru yang mengajar dengan ikhlas, dan seorang petani yang memproduksi pangan, semuanya sedang mengamalkan ilmunya.

Baca Juga: Keutamaan Shalat Tahajud: Ketenangan di Sepertiga Malam

Jalan Menuju Surga Dimudahkan

Keutamaan menuntut ilmu juga tampak dari janji kemudahan menuju surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR Muslim). Hadis ini memberi kabar gembira bahwa setiap langkah yang ditempuh untuk belajar, dari berangkat ke majelis ilmu hingga membaca buku di rumah, dicatat sebagai langkah di jalan menuju surga.

Dalam hadis lain disebutkan bahwa para malaikat membentangkan sayap-sayap mereka bagi penuntut ilmu karena ridha terhadap apa yang ia cari. Gambaran ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan penuntut ilmu di sisi Allah dan makhluk-Nya. Bahkan makhluk di langit dan di bumi mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia. Keutamaan ini hanya didapat bila ilmu dicari dengan niat yang ikhlas karena Allah, bukan untuk dipamerkan atau mencari pujian.

Doa Memohon Tambahan Ilmu

Al-Qur’an mengajarkan doa khusus bagi penuntut ilmu. Dalam Surat Thaha ayat 114, Allah memerintahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berdoa, “Wa qur rabbi zidnî ‘ilmâ”, yang artinya, “Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’” Doa yang singkat ini mengandung pelajaran besar: ilmu manusia tidak pernah cukup, dan setiap orang yang berilmu tetap membutuhkan tambahan ilmu dari Allah.

Menuntut ilmu pun memiliki adab yang perlu dijaga. Niatkan belajar karena Allah, hormati guru dan sumber ilmu, bersabar dalam prosesnya, catat hal-hal penting, dan ulangi pelajaran hingga benar-benar dipahami. Ilmu yang diperoleh tanpa adab mudah hilang, sedangkan ilmu yang dipelajari dengan adab akan melekat dan membawa keberkahan.

Baca Juga: Keutamaan Shalat Berjamaah di Masjid: Pahala, Ukhuwah, dan Kedisiplinan

Ilmu yang Bermanfaat Terus Mengalir

Ilmu yang dipelajari lalu diajarkan dan diamalkan adalah salah satu dari tiga amal yang pahalanya tidak terputus setelah seseorang meninggal dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa ketika anak Adam meninggal, seluruh amalnya terputus kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya (HR Muslim). Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diajarkan kepada orang lain dan diamalkan dalam kehidupan.

Sebaliknya, ilmu yang hanya disimpan untuk diri sendiri dan tidak diamalkan diibaratkan seperti pohon yang tidak berbuah. Ilmu menuntut amal, dan amal yang tanpa ilmu mudah menyimpang. Karena itu, setiap penuntut ilmu sebaiknya berusaha mengamalkan apa yang telah dipelajari dan membagikannya kepada orang lain, meski hanya sedikit. Satu ayat yang diajarkan, satu keterampilan yang dibagikan, atau satu nasihat yang disampaikan dengan tulus, semuanya bisa menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.

Ilmu dan Akhlak Berjalan Bersama

Ilmu yang sejati tidak berdiri sendiri, melainkan berjalan bersama akhlak. Orang yang berilmu tetapi berakhlak buruk justru membahayakan, karena ilmunya bisa dipakai untuk menipu atau menyakiti orang lain. Karena itu, para ulama selalu menekankan bahwa adab mendahului ilmu: tata hati sebelum memperbanyak hafalan. Ilmu yang disertai tawadhu membuat seseorang semakin rendah hati, karena semakin banyak belajar, semakin ia menyadari betapa sedikit yang diketahuinya. Sebaliknya, ilmu yang disertai kesombongan hanya akan menjauhkan seseorang dari kebenaran. Maka ketika menuntut ilmu, jagalah akhlak: jujur dalam belajar, tidak mengutip tanpa sumber, dan tidak merendahkan orang yang belum tahu.

Menuntut ilmu adalah jalan kemuliaan yang dibuka lebar oleh Allah untuk setiap hamba-Nya. Ilmu mengangkat derajat, menjadi kewajiban setiap muslim, memudahkan jalan menuju surga, dan pahalanya terus mengalir selama ilmu itu bermanfaat. Maka luangkanlah waktu untuk belajar setiap hari, walau hanya sedikit. Membaca satu halaman, mendengarkan satu kajian, atau menghafal satu ayat setiap hari, bila dilakukan terus-menerus, akan terkumpul menjadi ilmu yang besar dan membawa keberkahan.

Sumber:
Quran NU Online, Surat Al-Mujadilah Ayat 11, https://quran.nu.or.id/al-mujadilah/11
Quran NU Online, Surat Thaha Ayat 114, https://quran.nu.or.id/thaha/114

Pos terkait