Daftar 4 Tokoh Bursa Calon Ketum PBNU,di Muktamar Ke-34 NU, Siapa Saja?

Buletin Islam | Malang – Muktamar Ke-34 Nahdlatul Ulama akan digelar pada tanggal 22-23 Desember 2021. Ada 4 tokoh yang kini masuk bursa calon Ketua Umum PBNU, siapa saja? berikut Ulasannya.

Selain untuk memilih Ketum PBNU, Tujuan Muktamar sebenarnya adalah untuk memutuskan sejumlah hal yang menyangkut kepentingan organisasi ke depan, termasuk memilih pengurus periode selanjutnya.

Bacaan Lainnya

Hal tersebut sebagaimana ditegaskan Ulil Abshar Abdallah kepada kompas.com.

“Puncaknya adalah memilih ketua umum. Tujuan utama Muktamar, salah satunya memilih Ketum (PBNU),”

Saat ini, memang ada dua tokoh utama yang diprediksi akan memperebutkan kursi Ketua Umum PBNU, yakni KH. Said Aqil Siradj yang notabene adalah petahana, dan KH. Yahya Cholil Staquf.

Baca Juga : Makna Filosofis Logo Muktamar NU 34 Lampung-Link Download Gratis

Tapi selain kedua tokoh tersebut, ada dua tokoh lagi yang namanya digadang-gadang juga masuk dalam bursa Ketum PBNU mendatang, siapa saja mereka?

Empat Tokoh Yang Masuk Bursa Calon Ketum PBNU

KH. Said Aqil Siradj

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A. atau sering dikenal Said Aqil Siroj adalah Ketua Umum (Tanfidziyah) Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama periode 2010–2015. KH Said Aqil Siradj terpilih sebagai ketua umum PB Nahdlatul Ulama untuk periode 2015-2020 lewat muktamar ke-33 di Jombang.

Riwayat Pendidikan

  • Pendidikan Formal
  • S1 Universitas King Abdul Aziz, jurusan Ushuluddin dan Dakwah, lulus 1982
  • S2 Universitas Umm al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, lulus 1987
  • S3 University of Umm al-Qura, jurusan Aqidah / Filsafat Islam, lulus 1994
  • Non-Formal
  • Madrasah Tarbiyatul Mubtadi’ien Kempek Cirebon
  • Hidayatul Mubtadi’en Pesantren Lirboyo Kediri (1965-1970)
  • Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta (1972-1975)

KH. Yahya Chilil Staquf

Gus Yahya Tsaquf, yang keponakan Gus Mus (KH Mustofa Bisri) adalah mantan Juru Bicara Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Yahya Cholil Staquf saat ini sebagai Katib Aam Nahdlatul Ulama (NU).

KH. Yahya Cholil Staquf dididik dari masa kanak-kanak awal pendidikan formal dan spiritual pertama-tama oleh ayahnya, kakeknya dan pamannya, dari keluarga Bisri yang terkenal dari Rembang, Jawa Tengah.

Baca Juga : Tema Muktamar NU-34|100 Tahun NU: Kemandirian dalam Berkhidmat untuk Membangun Peradaban Dunia

Selanjutnya oleh Kyai Haji Ali Maksum (1915 – 1989) di rumahnya sekaligus merupakan madrasah di Yogyakarta. KH. Ali Maksum sendiri adalah murid langsung Syekh Umar Hamdan al-Makki (1858 – 1948) dan Syekh Hasan Masshat al-Makki (1900 – 1979) Mekah.

Dimasa reformasi politik tanah air KH. Yahya Cholil Staquf adalah anggota Komisi Pemilihan Nasional Indonesia dan selama transisi kekuasaan dari pemerintahan otoriter ke demokrasi, dan menjabat sebagai juru bicara kepresidenan untuk kepala negara Indonesia pertama yang dipilih secara demokratis – Kyai Haji Abdurrahman Wahid yang mengepalai Nahdlatul Ulama selama 15 tahun.

Yahya Cholil Staquf juga pernah dipercaya sebagai tenaga ahli perumus kebijakan pada “Dewan Eksekutif Agama Agama di Amerika Serikat – Indonesia” yang didirikan berdasarkan perjanjian bilateral yang ditandatangani oleh Presiden Obama dan Presiden Jokowi pada Oktober 2015, dalam rangka “menjalin kemitraan strategis antara
AS dan Indonesia.

KH. Marzuki Mustamar

KH. Marzuki Mustamar lahir 44 tahun yang lalu, beliau lahir dari golongan yang sangat agamis. Ayah beliau Kyai Mustamar merupakan salah seorang kyai yang sangat mengerti dan juga memiliki kemampuan dalam bidang keagamaan yang sangat tinggi.

Dari abah dan umi nya Nyai Siti Jainab inilah kemampuan KH. Marzuki Mustamar benar-benar diasah dan juga sangat berkembang.

Baca Juga : Pasang 20 Link Gambar Twibbon KEREN Muktamar NU Ke-34

Bukan hanya ilmu agama saja yang diajarkan oleh abah dan uminya namun rasa kemandirian, tanggung jawab dan juga disiplin juga beliau ajarkan kepada KH. Marzuki Mustamar.

Beliau sangat getol membela amaliah Aswaja, seperti tahlilan, manakiban dan lainnya.

KH. Bahauddin Nursalim / Gus Baha

Bahauddin lahir di Rembang tahun 1970, putra dari Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Al-Quran di dari Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah. Narukan adalah sebuah desa di pesisir utara pulau Jawa.

KH. Nursalim adalah murid dari KH. Arwani Al-Hafidz Kudus dan KH. Abdullah Salam Al-Hafidz Pati, Kajen, Pati. Nasabnya bersambung kepada para ulama besar. Bersama Kiai Nur Salim inilah Gus Miek (KH Hamim Jazuli).

Dibawah bimbingan ayahnya sendiri, Gus Baha kecil mulai menempuh gemblengan keilmuan dan hafalan Al-Quran. Pada usia yang masih sangat belia, beliau telah mengkhatamkan Al-Quran beserta Qiro’ahnya dengan lisensi yang ketat dari sang ayah.

Ketika remaja, sang ayah menitipkan Gus Baha mondok dan berkhidmah kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al-Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang, sekitar 10 km arah timur Narukan. Di Al-Anwar inilah beliau terlihat sangat menonjol dalam fan-fan ilmu syari’at seperti Fiqih, Hadits dan Tafsir.

Dalam riwayat pendidikan beliau, semenjak kecil hingga mengasuh pesantren warisan ayahnya sekarang, Gus Baha hanya mengenyam pendidikan dari dua pesantren, yakni pesantren ayahnya sendiri di desa Narukan dan PP. Al Anwar Karangmangu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *