Gunung Semeru kembali menjadi perbincangan di Indonesia. Gunung yang menjulang di perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, ini adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa, sekaligus salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Di balik keindahannya yang memikat para pendaki, Semeru menyimpan sejarah letusan yang panjang dan kekuatan alam yang patut dihormati. Mengenal Semeru berarti mengenal gunung itu apa adanya: megah, kaya, dan berbahaya.
Gunung Semeru, atau Gunung Meru, adalah sebuah gunung berapi kerucut di Jawa Timur, Indonesia. Semeru merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya yang bernama Mahameru pada ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut. Gunung ini terbentuk akibat subduksi Lempeng Samudra Hindia, atau Lempeng Indo-Australia, ke bawah Lempeng Sunda atau Lempeng Eurasia. Gunung Semeru juga merupakan gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia setelah Gunung Kerinci di Sumatra dan Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat. Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko. Secara administratif, gunung ini termasuk dalam wilayah dua kabupaten, yakni Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, dan termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, sebuah kawasan konservasi yang luasnya mencapai 50.273,3 hektare.

Gunung Semeru yang menjulang di atas hamparan hijau di Jawa Timur. Foto: sofamuzaqi via Pexels.
Salah satu daya tarik Semeru yang paling terkenal adalah danau-danau kawahnya. Di kawasan kompleks vulkanik Tengger-Semeru terdapat enam buah danau kawah, yang dikenal dengan sebutan ranu, yakni Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo, Ranu Darungan, Ranu Pakis atau Ranu Kuning, dan Ranu Tompe. Ranu Kumbolo, danau yang terletak di jalur pendakian, menjadi tempat peristirahatan favorit para pendaki, dan di sana masih hidup liar burung belibis. Hutan di lereng Semeru pun kaya akan flora dan fauna: pohon akasia, pinus, dan jamuju mendominasi, sementara tumbuhan bawah didominasi kirinyuh, alang-alang, tembelekan, harendong, dan edelweis putih yang banyak ditemukan di lereng menuju puncak. Ada pula spesies bunga anggrek endemik di bagian selatan gunung, yakni anggrek selop. Fauna yang menghuni gunung ini antara lain macan kumbang, budeng, luwak, kijang, dan kancil.
Baca Juga: Wisata Malang: 7 Destinasi Terbaik dari Kampung Warna-Warni hingga Bromo
Baca Juga: Wisata Yogyakarta: 7 Destinasi Terbaik dari Candi hingga Pantai
Sejarah letusan yang panjang
Gunung Semeru memiliki sejarah panjang letusan yang merusak. Sejak tahun 1818, setidaknya 61 periode letusan tercatat, dan hampir semua letusan historis memiliki Indeks Daya Ledak Vulkanik 2 atau 3. Semeru telah berada dalam kondisi letusan yang hampir konstan dari tahun 1967 hingga saat ini. Catatan letusan pertama yang terekam diperkirakan pada 8 November 1818. Pada Agustus 1909, Gunung Semeru meletus besar dan menyebabkan sedikitnya 700 orang tewas. Pada 2 Februari 1994, tercatat sembilan kali letusan, dan erupsi tersebut menelan korban jiwa sebanyak tujuh orang yang hanyut terbawa lahar. Pada 1 Desember 2020, Gunung Semeru mengalami letusan yang diikuti guguran awan panas dari puncak.
Letusan yang paling diingat dalam beberapa tahun terakhir terjadi pada 4 Desember 2021 pukul 15.10 WIB, ketika Gunung Semeru meletus dan mengeluarkan guguran awan panas yang mengalir ke arah tenggara. Setidaknya 57 orang tewas, 104 orang lainnya luka-luka, dan 23 orang lainnya belum diketahui keberadaannya. Lebih dari 10.000 orang mengungsi, dan 1.027 rumah, 43 fasilitas umum, dan dua jembatan terkena dampak. Setelah peristiwa itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius satu kilometer dari kawah puncak Semeru dan jarak empat kilometer pada arah bukaan kawah di sektor selatan-tenggara. Aktivitas gunung ini belum berhenti: pada 19 November 2025 pukul 16.00 WIB, Gunung Semeru meletus dengan aliran piroklastik dan awan panas di lereng selatan yang mencapai 14 kilometer, disertai awan abu yang mencapai ketinggian dua kilometer, dan status gunung dinaikkan ke level tertinggi.
Wedus gembel, si gas beracun
Di puncak Gunung Semeru, pendaki disarankan untuk tidak menuju kawah Jonggring Saloko, dan juga dilarang mendaki dari sisi sebelah selatan, karena adanya gas beracun dan aliran lahar. Gas beracun ini dikenal dengan sebutan wedus gembel, yang dalam bahasa Jawa berarti kambing gimbal, yakni kambing yang berbulu seperti rambut gimbal. Letusan wedus gembel terjadi setiap 15 sampai 30 menit sekali pada puncak Gunung Semeru yang masih aktif, berupa asap putih, kelabu, sampai hitam dengan tinggi letusan 300 sampai 800 meter, membawa material berupa abu, pasir, kerikil, bahkan batu-batu panas yang menyala, yang sangat berbahaya apabila pendaki terlalu dekat. Bahaya gas ini bukan sekadar cerita: Soe Hok Gie, seorang tokoh aktivis dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia, meninggal di Gunung Semeru pada tahun 1969 akibat menghirup asap beracun, bersama rekannya Idhan Dhanvantari Lubis.
Iklim, pendakian, dan legenda
Secara umum, iklim di wilayah Gunung Semeru termasuk tipe iklim B, dengan curah hujan 927 hingga 5.498 milimeter per tahun dan jumlah hari hujan 136 hari per tahun, sedangkan musim hujan jatuh pada bulan November sampai April. Suhu udara di puncak berkisar antara 3 sampai 8 derajat Celsius pada malam dan dini hari, sedangkan pada siang hari berkisar antara 15 sampai 21 derajat Celsius. Pendaki pertama yang tercatat adalah orang Eropa bernama Clignett dan Winny Brigita pada tahun 1838, yang menempuh jalur dari sebelah barat daya melalui Widodaren. Jalur pendakian yang paling umum saat ini adalah melalui Tumpang, Kabupaten Malang. Nama Semeru semakin dikenal luas setelah kisah pendakian yang diangkat dalam novel “5 cm” karya Donny Dhirgantoro yang terbit pada 2005, dan film berjudul sama yang disutradarai Rizal Mantovani pada 2012.
Menurut kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab kuno Tantu Pagelaran yang berasal dari abad ke-15, pada dahulu kala Pulau Jawa mengambang di lautan luas, terombang-ambing, dan senantiasa berguncang. Para dewa kemudian memindahkan Gunung Meru dari India ke atas Pulau Jawa. Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa yang menggendong gunung itu di punggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura. Bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa Siwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. Dalam agama Hindu, Gunung Meru dianggap sebagai rumah tempat bersemayam dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung di antara manusia dengan para dewa. Menurut orang Bali, Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali.
Gunung Semeru adalah bukti bahwa keindahan dan bahaya dapat hidup berdampingan. Keindahannya menarik ribuan pendaki setiap tahun, tetapi aktivitas vulkaniknya menuntut kewaspadaan yang tidak boleh dilupakan. Bagi siapa pun yang berencana mendaki, pesan yang paling penting adalah: patuhi status resmi yang dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi dan pengumuman dari pihak Taman Nasional, jangan mendaki ketika status gunung sedang berbahaya, dan jangan pernah meremehkan gas beracun serta awan panas. Gunung akan tetap ada untuk didaki di lain waktu, tetapi keselamatan tidak dapat ditukar dengan apa pun.
Sumber:
Wikipedia bahasa Indonesia – Gunung Semeru: https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Semeru





