Bagaimana komet terbentuk adalah pertanyaan yang sering muncul ketika kita melihat foto komet dengan ekornya yang bercahaya melintasi langit malam. Komet adalah benda langit yang terdiri dari es, debu, dan batuan, dan sering disebut sebagai bola es antariksa. Berbeda dengan asteroid yang sebagian besar terdiri dari batuan, komet menyimpan es dari air, karbon dioksida, dan metana. Komet merupakan sisa-sisa pembentukan Tata Surya yang terjadi sekitar 4,6 miliar tahun lalu, sehingga mempelajari komet berarti mempelajari masa awal Tata Surya kita.
Komet terbentuk sendiri dari penggabungan banyak material di daerah yang jauh dan dingin dari Matahari, bukan dari tabrakan antar-benda langit. Di daerah dingin tersebut, es tidak menguap sehingga butiran debu dan es dapat saling menempel dan tumbuh menjadi benda yang semakin besar. Salah satu komet yang paling banyak dipelajari adalah komet 67P/Churyumov-Gerasimenko, yang dikunjungi wahana antariksa Rosetta milik Badan Antariksa Eropa (ESA). Rosetta mengorbit komet 67P selama sekitar dua tahun dan menemukan bahwa komet ini memiliki kepadatan yang sangat rendah, porositas yang tinggi, bentuk lobus ganda, dan permukaan yang berlapis-lapis.

Bagaimana Komet Terbentuk di Awal Tata Surya
Tata Surya terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun lalu dari awan gas dan debu yang runtuh dan membentuk Matahari di tengahnya, sementara sisa materialnya membentuk planet dan benda-benda kecil lainnya. Komet terbentuk di bagian luar Tata Surya yang dingin, tempat es dapat bertahan. Di sana, butiran es dan debu saling bertabrakan dengan lembut dan menempel, perlahan-lahan membentuk gumpalan yang semakin besar. Proses ini berbeda dengan pembentukan planet berbatu yang terjadi lebih dekat dengan Matahari, tempat suhu yang tinggi membuat es menguap.
Sekitar empat miliar tahun lalu, Tata Surya mengalami masa yang disebut hujan komet, ketika banyak komet jatuh ke planet-planet muda, termasuk Bumi. Para ilmuwan menduga hujan komet ini mungkin mengirim molekul organik ke Bumi, yang dapat menjadi benih bagi kehidupan. Selain itu, sebuah studi yang dipimpin Björn Davidsson dari Jet Propulsion Laboratory NASA dan diterbitkan di jurnal Astronomy and Astrophysics menduga bahwa tumbukan komet raksasa di masa lalu terkait dengan kepunahan besar di Bumi, termasuk kepunahan dinosaurus sekitar 65 juta tahun lalu. Dengan demikian, komet bukan hanya benda langit yang indah, tetapi juga berperan dalam sejarah kehidupan di Bumi.
Baca Juga: Mengapa Kita Cegukan? Penyebab dan Cara Menghentikannya
Dari Mana Komet Berasal? Sabuk Kuiper dan Awan Oort
Komet yang kita lihat saat ini berasal dari dua wilayah utama. Pertama adalah Sabuk Kuiper, yaitu cincin benda-benda es yang terletak di luar orbit Neptunus hingga melewati orbit Pluto. Komet dari Sabuk Kuiper umumnya memiliki periode orbit yang pendek, yaitu kurang dari 200 tahun, sehingga sering kembali mendekati Matahari. Kedua adalah Awan Oort, yaitu awan raksasa berbentuk bola yang melingkupi seluruh Tata Surya pada jarak yang sangat jauh. Diperkirakan ada triliunan komet di Awan Oort, dan komet dari wilayah ini memiliki periode orbit yang sangat panjang, bahkan ribuan tahun.
Kadang-kadang, gravitasi planet raksasa seperti Jupiter dapat membelokkan orbit sebuah komet dan mengirimnya menuju bagian dalam Tata Surya. Ada pula komet yang terlempar keluar Tata Surya untuk selamanya. Perjalanan komet dari wilayah asalnya yang dingin menuju Matahari inilah yang membuat kita dapat menyaksikannya sebagai benda bercahaya di langit malam.
Mengapa Komet Memiliki Ekor?
Ketika komet mendekati Matahari, panas Matahari membuat es di permukaannya menyublim, yaitu berubah langsung dari es menjadi gas tanpa melalui fase cair. Gas dan debu yang terlepas membentuk awan bercahaya di sekitar inti komet yang disebut koma. Tekanan radiasi Matahari dan angin Matahari kemudian mendorong debu dan gas tersebut menjauhi Matahari, membentuk ekor komet yang panjang dan bercahaya.
Komet umumnya memiliki dua ekor: ekor debu yang berwarna putih kekuningan dan sedikit melengkung, serta ekor ion yang berwarna kebiruan dan lurus. Menariknya, ekor komet selalu mengarah menjauhi Matahari, bukan mengikuti arah gerak komet. Artinya, ketika komet menjauhi Matahari setelah melintas di titik terdekatnya, ekornya justru berada di depan. Semakin dekat komet dengan Matahari, semakin terang dan panjang ekornya. Setelah komet menjauh kembali ke daerah dingin Tata Surya, aktivitasnya mereda dan ekornya menghilang hingga kunjungan berikutnya.
Komet Terkenal yang Pernah Terlihat dari Bumi
Beberapa komet terkenal pernah terlihat dengan mata telanjang dari Bumi. Komet Halley adalah yang paling terkenal, dengan periode orbit sekitar 76 tahun dan terakhir terlihat pada tahun 1986. Komet Hale-Bopp yang muncul pada tahun 1997 terlihat jelas selama berbulan-bulan dan menjadi salah satu komet paling terang dalam sejarah modern. Komet NEOWISE yang terlihat pada tahun 2020 juga memukau banyak pengamat langit di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, dengan ekornya yang panjang dan terang di langit senja.
Pengamatan komet-komet ini tidak hanya memukau, tetapi juga membantu para ilmuwan memahami komposisi dan perilaku komet. Wahana antariksa seperti Rosetta dan misi-misi lain terus mempelajari komet dari dekat, dan setiap penemuan baru menambah pemahaman kita tentang asal-usul Tata Surya. Bagi pengamat langit amatir, komet yang terang adalah kesempatan langka yang patut dinantikan, karena sebagian komet hanya muncul sekali dalam ribuan tahun.
Sumber:
Info Astronomy, Bagaimana Proses Pembentukan Komet, https://www.infoastronomy.org/2016/07/bagaimana-proses-pembentukan-komet.html, 29 Juli 2016






