Menguap adalah hal yang hampir dilakukan semua orang setiap hari, tetapi jarang ada yang memikirkan alasannya. Anda menguap saat bangun tidur, saat mendengarkan ceramah yang membosankan, saat lelah di sore hari, bahkan saat melihat orang lain menguap. Yang lebih menarik, menguap bukan hanya terjadi pada manusia: hampir semua hewan bertulang belakang, mulai dari mamalia, burung, reptil, amfibi, hingga ikan, juga menguap. Bahkan janin di dalam kandungan sudah terlihat menguap pada usia kehamilan tiga puluh minggu. Lalu, mengapa kita menguap?
Menguap, yang dalam bahasa Indonesia juga disebut kuap, adalah gerakan refleks yang ditandai dengan fase menarik napas yang panjang disertai mulut yang menganga secara bertahap, lalu klimaks singkat dengan peregangan otot, dan diakhiri dengan fase mengeluarkan napas yang cepat disertai relaksasi otot. Satu kali menguap biasanya berlangsung sekitar enam detik. Selama menguap, otot-otot di sekitar jalan napas meregang sepenuhnya, termasuk otot mengunyah dan menelan, sehingga saluran napas, yaitu paru-paru dan tenggorokan, melebar hingga tiga atau empat kali ukuran semula. Otot tensor tympani di telinga tengah pun berkontraksi, yang menimbulkan bunyi gemuruh yang terasa berasal dari dalam kepala. Menguap yang disertai peregangan tubuh secara bersamaan disebut pandikulasi.

Seorang pria yang lelah menguap dengan tangan menutup mulut. Foto: cottonbro studio via Pexels.
Menguap paling sering terjadi pada orang dewasa sesaat sebelum dan sesudah tidur, selama aktivitas yang membosankan, serta karena sifatnya yang menular. Menguap umumnya dikaitkan dengan rasa lelah, stres, kantuk, kebosanan, bahkan rasa lapar. Ada banyak teori yang mencoba menjelaskan mengapa manusia dan hewan menguap. Para ilmuwan telah mengajukan sekitar dua puluh alasan psikologis, tetapi hingga kini belum ada kesepakatan tentang mana yang paling utama.
Salah satu teori yang paling lama dikenal menyatakan bahwa menguap terjadi ketika darah mengandung karbon dioksida dalam jumlah yang meningkat, sehingga tubuh perlu menarik lebih banyak oksigen. Namun, teori ini tidak terbukti: frekuensi menguap tidak berkurang ketika seseorang diberi lebih banyak oksigen atau ketika kadar karbon dioksida diturunkan. Artinya, menguap bukan sekadar cara tubuh untuk menghirup oksigen.
Baca Juga: Mengapa Pelangi Terbentuk? Penjelasan Ilmiah yang Mudah Dipahami
Baca Juga: Mengapa Langit Berwarna Jingga Saat Matahari Terbenam? Penjelasan Sederhana
Teori lain yang banyak mendapat perhatian adalah hipotesis pendinginan otak. Pada tahun 2007, para peneliti, termasuk seorang profesor psikologi dari SUNY Albany di Amerika Serikat, mengusulkan bahwa menguap mungkin merupakan cara untuk menjaga otak tetap dingin. Otak mamalia bekerja paling baik dalam rentang suhu yang sempit, dan menguap diduga membantu mendinginkannya. Hipotesis serupa menyatakan bahwa menguap digunakan untuk mengatur suhu tubuh. Penelitian mendukung bahwa bernapas melalui hidung dan mendinginkan dahi dapat mengurangi terjadinya kuap yang menular, yang sejalan dengan gagasan bahwa suhu berperan dalam proses menguap.
Yang paling terkenal dari menguap adalah sifatnya yang menular. Sejak tahun 1508, Erasmus sudah menulis, “Kuap satu orang membuat orang lain menguap.” Orang Prancis bahkan memiliki peribahasa, “Un bon bâilleur en fait bâiller sept”, yang artinya satu penguap yang baik membuat tujuh orang lain menguap. Mengamati wajah orang yang menguap, terutama matanya, membaca tentang menguap, atau bahkan sekadar memikirkan menguap, dapat memicu kita untuk ikut menguap. Menurut para peneliti, penyebab terdekat dari kuap yang menular mungkin terletak pada neuron cermin (mirror neurons) di korteks frontal otak, yang aktif ketika kita melihat rangsangan dari sesama, dan terkadang dari spesies lain. Neuron cermin juga diusulkan sebagai pendorong imitasi, yang menjadi dasar dari banyak pembelajaran manusia, seperti pemerolehan bahasa. Menguap mungkin merupakan cabang dari dorongan meniru yang sama.
Kuap yang menular juga telah diamati pada simpanse, anjing, kucing, burung, dan reptil, dan dapat terjadi antarspesies. Sebuah penelitian dari University of London menunjukkan bahwa anjing dapat menangkap kuap manusia. Anjing di atas usia tujuh bulan mulai rentan terhadap kuap yang menular, dan hampir separuh anjing yang merespons kuap manusia menjadi rileks dan mengantuk. Hal ini menunjukkan bahwa menguap bukan sekadar refleks mekanis, tetapi juga memiliki fungsi sosial.
Fungsi sosial menguap diduga berkaitan dengan empati. Sebuah studi perilaku tahun 2011 dari University of Pisa, Italia, menemukan bahwa penularan kuap berkaitan dengan kedekatan emosional. Tingkat penularan paling tinggi terjadi di antara kerabat dekat, sedangkan orang asing dan kenalan menunjukkan penundaan yang lebih lama dalam merespons kuap. Sebaliknya, sebuah studi tahun 2007 menemukan bahwa anak-anak muda dengan gangguan spektrum autisme tidak meningkatkan frekuensi menguap mereka setelah melihat video orang lain menguap, berbeda dengan anak-anak yang berkembang secara normal. Temuan ini mendukung gagasan bahwa kuap yang menular berhubungan dengan kemampuan merasakan keadaan orang lain.
Pada hewan, menguap dapat memiliki fungsi yang berbeda. Charles Darwin dalam bukunya The Expression of the Emotions in Man and Animals menyebutkan bahwa babun menguap untuk mengancam musuhnya, kemungkinan dengan memamerkan gigi taringnya yang besar. Ikan cupang Siam hanya menguap ketika melihat sesamanya atau bayangannya sendiri di cermin, dan kuapnya sering menyertai serangan agresif. Ular menguap untuk meluruskan rahangnya setelah makan maupun karena alasan pernapasan. Penguin Adelie menggunakan menguap sebagai bagian dari ritual pacaran. Semua ini menunjukkan bahwa menguap adalah perilaku purba yang sudah ada jauh sebelum manusia.
Dalam budaya, menguap sering dianggap sebagai sikap yang tidak sopan, terutama bila dilakukan dengan mulut terbuka lebar di hadapan orang lain. Menutup mulut saat menguap telah lama menjadi kebiasaan, yang dalam kepercayaan lama dianggap sebagai cara untuk mencegah masuknya roh jahat atau keluarnya jiwa. Dalam adab Islam, Ibnu Hajar al-Asqalani dalam syarahnya atas kitab hadits Shahih al-Bukhari menyebutkan bahwa menguap berisiko membiarkan setan masuk, dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyamakan menguap yang berlebihan dengan lolongan anjing, sebagai peringatan agar umatnya tidak menguap sembarangan. Karena itu, dalam adab Islam, seseorang dianjurkan menutup mulutnya ketika menguap. Tokoh-tokoh lain pun memiliki nasihat serupa: George Washington pernah berkata bahwa bila batuk, bersin, mendesah, atau menguap, jangan dilakukan dengan keras, melainkan secara tertutup, dan Francis Hawkins menasihati agar sebisa mungkin menahan kuap, terutama di hadapan orang lain. Bahkan, kuap yang keras pernah berujung pada hukuman karena penghinaan terhadap pengadilan.
Perlu diingat, menguap yang berlebihan juga bisa menjadi pertanda kondisi medis. Perilaku menguap dapat berubah akibat masalah kesehatan seperti diabetes, stroke, atau kondisi kelenjar adrenal, dan menguap yang berlebihan terlihat pada pasien dengan gangguan sistem kekebalan seperti multiple sclerosis. Seorang profesor neuropsikologi klinis dari Bournemouth University bahkan menunjukkan bahwa peningkatan kuap dapat menjadi peringatan akan kenaikan kadar kortisol, hormon stres, di dalam tubuh. Apabila Anda menguap secara berlebihan dan disertai rasa kantuk yang ekstrem atau gejala lain yang mengganggu, ada baiknya berkonsultasi dengan dokter.
Menguap adalah refleks yang sederhana namun penuh misteri. Di balik satu kuap yang tampak sepele, tersimpan interaksi antara tubuh, otak, suhu, bahkan hubungan sosial dengan orang di sekitar. Ia mengingatkan kita bahwa tubuh manusia bekerja dengan cara-cara yang masih terus diteliti oleh para ilmuwan hingga hari ini, dan bahwa hal-hal yang paling biasa sekalipun dapat menyimpan penjelasan yang luar biasa.
Sumber:
Wikipedia – Yawn: https://en.wikipedia.org/wiki/Yawning
Wikipedia bahasa Indonesia – Kuap: https://id.wikipedia.org/wiki/Kuap






