7 Cara Mengenali Penipuan Phishing lewat Pesan dan Email

Phishing adalah upaya penipuan yang menyamar sebagai pesan dari pihak yang tampak tepercaya, misalnya bank, layanan pengiriman, tempat kerja, atau akun media sosial, dengan tujuan mencuri kata sandi, kode verifikasi, data kartu, atau uang. Pesan semacam ini bisa datang lewat email, pesan singkat, maupun aplikasi percakapan, dan sering kali dirancang agar tampak mendesak sehingga penerima terdorong mengklik tautan atau membalas tanpa berpikir panjang. Karena tampilannya bisa sangat meyakinkan, kemampuan mengenali ciri-cirinya menjadi bekal penting bagi siapa pun yang memakai ponsel dan email setiap hari, bukan hanya bagi pekerja di bidang teknologi.

Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat (FTC) menjelaskan bahwa penipu phishing sering berpura-pura berasal dari perusahaan, teman, atau lembaga yang dikenal, lalu menciptakan rasa darurat dengan kabar seperti akun ditahan, ada masalah penagihan, atau pembayaran perlu diperbarui. FTC juga mengingatkan bahwa perusahaan yang sah umumnya tidak meminta informasi pribadi atau keuangan melalui email atau pesan teks. Prinsip ini menjadi patokan yang berguna: pesan yang meminta data sensitif secara tiba-tiba, apalagi dengan ancaman penutupan akun, patut dicurigai terlebih dahulu, betapa pun meyakinkan tampilannya.

Seorang pria terkejut memegang ponsel dan kartu saat menemukan kemungkinan penipuan. Foto: Mikhail Nilov via Pexels.
Seorang pria terkejut memegang ponsel dan kartu saat menemukan kemungkinan penipuan. Foto: Mikhail Nilov via Pexels.

1. Periksa pengirim dan alamatnya dengan teliti. Jangan hanya melihat nama pengirim yang tertera, karena nama itu mudah dipalsukan; periksa alamat email atau nomor pengirimnya, dan waspadai ejaan yang hampir mirip dengan nama perusahaan asli, tambahan angka, atau domain yang tidak biasa. 2. Waspadai sapaan yang terlalu umum dan bahasa yang mendesak. Pesan phishing sering memakai sapaan umum, bukan nama penerima, dan menekan penerima dengan kalimat seperti segera, akun akan ditutup, atau batas waktu hari ini. 3. Jangan langsung mengklik tautan atau mengunduh lampiran. Arahkan kursor ke tautan untuk melihat alamat tujuannya bila memungkinkan, dan bila ragu, buka situs resmi perusahaan melalui aplikasi atau alamat yang sudah diketahui, bukan melalui tautan di dalam pesan.

4. Curigai permintaan data pribadi dan keuangan. Pesan yang meminta kata sandi, kode sekali pakai, nomor kartu lengkap, atau kode keamanan adalah tanda bahaya yang kuat, karena layanan resmi tidak meminta data semacam itu melalui pesan. 5. Periksa bahasa, logo, dan detail yang janggal. Kesalahan ejaan, tata bahasa yang aneh, logo yang buram, atau cerita yang tidak sesuai dengan riwayat akun Anda sering menjadi petunjuk bahwa pesan itu palsu, meskipun sebagian tampilannya tampak profesional. Penipu bisa menyalin logo dan format perusahaan asli, sehingga satu detail yang janggal saja sudah cukup menjadi alasan untuk berhenti dan memeriksa melalui jalur resmi.

Baca Juga: Tidak Cukup Menangkap Pelaku, Kapolri Minta Aset Kejahatan Digital Ditelusuri hingga Korban Dipulihkan dan Pemulihan Korban Kejahatan Digital: Menangkap Pelaku Saja Tidak Cukup

6. Verifikasi melalui kontak resmi yang sudah diketahui. Bila pesan mengatasnamakan bank, perusahaan pengiriman, atau tempat kerja, hubungi pihak tersebut melalui nomor atau situs resmi yang Anda ketahui dari kartu, aplikasi, atau situs resminya, bukan melalui nomor atau tautan yang tercantum di dalam pesan mencurigakan itu. 7. Perkuat akun dengan pembaruan dan verifikasi dua langkah. FTC menyarankan menjaga perangkat dan perangkat lunak tetap diperbarui, menggunakan verifikasi dua langkah bila tersedia, dan mencadangkan data penting, karena langkah-langkah ini mempersulit penipu meskipun mereka berhasil mendapatkan sebagian informasi. Pembaruan perangkat lunak menutup celah keamanan yang diketahui, sedangkan verifikasi dua langkah menambah lapisan yang harus dilewati penipu sebelum bisa masuk ke akun.

Waspadai pula pesan yang datang dari kontak yang dikenal tetapi gayanya berubah mendadak, misalnya teman yang tiba-tiba meminta pinjaman, kode verifikasi, atau tautan hadiah dengan bahasa yang tidak biasa. Akun teman bisa saja telah diambil alih, sehingga pesan itu sebenarnya berasal dari penipu. Dalam situasi seperti ini, jangan membalas dengan data yang diminta; hubungi teman tersebut melalui saluran lain yang sudah Anda kenal, misalnya panggilan suara atau pertemuan langsung, untuk memastikan apakah ia benar-benar mengirim pesan itu. Kehati-hatian ekstra ini penting karena pesan dari kontak dikenal sering membuat kita menurunkan kewaspadaan.

Jika Anda terlanjur mengklik tautan atau memasukkan data, jangan panik, tetapi bertindaklah cepat dan teratur. Segera ubah kata sandi akun yang terdampak dari perangkat yang aman, aktifkan verifikasi dua langkah bila belum aktif, dan periksa aktivitas akun serta mutasi yang tidak dikenali. Bila data keuangan terlibat, hubungi bank atau penyedia layanan melalui kontak resmi untuk meminta pemblokiran atau pemantauan, dan simpan bukti pesan sebagai catatan. Melaporkan pesan phishing melalui fitur laporkan di aplikasi email atau pesan, serta kepada pihak berwenang yang menangani laporan penipuan di wilayah Anda, juga membantu mencegah orang lain menjadi korban berikutnya.

Pada akhirnya, kewaspadaan terhadap phishing bukan soal ketakutan terhadap setiap pesan yang masuk, melainkan soal kebiasaan memeriksa sebelum percaya. Berhenti sejenak, memeriksa pengirim, tidak terburu-buru mengklik, dan memverifikasi melalui jalur resmi adalah kebiasaan yang sederhana tetapi sangat efektif. Semakin banyak orang yang menerapkan kebiasaan ini, semakin sulit bagi penipu untuk berhasil, karena phishing hanya bekerja bila penerima bertindak tanpa memeriksa. Dengan sikap yang tenang dan terinformasi, pesan dan email tetap bisa digunakan dengan aman untuk bekerja, berbelanja, dan berkomunikasi sehari-hari.

Sumber: U.S. Federal Trade Commission, Consumer Advice — How To Recognize and Avoid Phishing Scams, September 2022, https://consumer.ftc.gov/articles/how-recognize-avoid-phishing-scams

Pos terkait