Di selatan Spanyol, di wilayah Andalusia, berdiri sebuah kota yang namanya selalu disebut ketika orang membicarakan peradaban Islam di Eropa: Cordoba. Kota ini pernah menjadi ibu kota wilayah yang dikuasai Muslim di Semenanjung Iberia dan pusat kekhalifahan yang berpengaruh. Hingga hari ini, jejak masa itu masih bisa dilihat, disentuh, dan dijelajahi di jalan-jalan tuanya, terutama di bangunan megah yang dikenal sebagai Masjid Raya Cordoba.
Masa kejayaan terbesar Cordoba bermula pada abad ke-8, setelah penaklukan oleh kaum Muslim. UNESCO mencatat, pada masa itu dibangun sekitar 300 masjid serta istana dan gedung publik yang tak terhitung jumlahnya, yang menyaingi kemegahan Konstantinopel, Damaskus, dan Baghdad. Pusat Sejarah Cordoba kemudian menjadi kesaksian penting atas Kekhalifahan Cordoba yang berlangsung pada tahun 929 hingga 1031. Inilah latar yang membuat Cordoba berbeda dari sekadar kota tua: ia adalah saksi hidup sebuah peradaban.

Bangunan yang paling terkenal di Cordoba adalah Masjid Raya, yang kini dikenal sebagai Mezquita-Catedral. Masjid ini dibangun atas perintah Abdurrahman I pada tahun 785, ketika Cordoba menjadi ibu kota wilayah yang dikuasai Muslim, Al-Andalus. Bangunan ini kemudian diperluas beberapa kali oleh para penerusnya: Abdurrahman III menambahkan minaret yang selesai pada tahun 958, dan putranya, Al-Hakam II, menambahkan mihrab dan maqsurah baru yang selesai pada tahun 971. Pada tahun 1236, setelah Cordoba direbut pasukan Kristen Kastila pada masa Reconquista, masjid ini diubah menjadi katedral. Bangunan ini kemudian dicatat UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 1984, dan kawasan pusat sejarahnya diperluas pencatatannya pada tahun 1994.
Hutan Tiang dan Lengkung yang Memukau
Hal pertama yang membuat pengunjung terpana di dalam Masjid Raya Cordoba adalah barisan tiang dan lengkung dua tingkatnya yang seolah membentuk hutan batu. Lengkung-lengkung itu tersusun dalam pola selang-seling merah dan putih yang menjadi ciri khasnya, dan strukturnya dianggap sebagai monumen penting dalam sejarah arsitektur Islam yang sangat berpengaruh pada arsitektur Moor di Mediterania barat. UNESCO menyebut Masjid Raya Cordoba sebagai pencapaian artistik yang unik karena ukuran dan keberanian ketinggian interiornya, sekaligus sebagai perpaduan arsitektur yang menyatukan banyak nilai seni Timur dan Barat.
Bagi pengunjung Muslim, ada baiknya mengetahui bahwa bangunan ini kini berfungsi sebagai katedral kota dan misa dirayakan di dalamnya setiap hari. Karena itu, datanglah dengan sikap menghormati fungsi bangunan saat ini: berpakaian sopan, menjaga suara, dan mengikuti aturan kunjungan yang berlaku. Justru di sinilah letak pelajaran berharganya: satu bangunan yang sama menyimpan lapisan sejarah Islam dan Kristen, dan keduanya tetap tampak berdampingan dalam batu-batunya.
Pusat Sejarah dan Gang-Gang Tua
Di sekitar Masjid Raya terbentang Pusat Sejarah Cordoba, kawasan jalan-jalan yang mengelilingi masjid agung beserta seluruh bagian kota tua. Berjalan kaki di sini adalah cara terbaik untuk menikmatinya: gang-gang sempit, dinding bercat putih, dan halaman-halaman rumah yang dipenuhi tanaman. Salah satu tradisi kota yang terkenal adalah festival patio, yaitu perayaan halaman-halaman rumah yang dihias bunga, yang bahkan dicatat UNESCO sebagai bagian dari warisan budaya takbenda. Suasana ini membuat Cordoba terasa seperti kota yang masih dihuni, bukan sekadar museum terbuka.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Islam di Banten Lama: Wisata Sejarah yang Mendidik dan 5 Tempat Wisata Religi di Yogyakarta yang Layak Dikunjungi
Alcazar dan Menara Calahorra
Selain Masjid Raya, dua bangunan lain melengkapi gambaran sejarah Cordoba. Alcazar de los Reyes Cristianos, istana benteng di tepi Sungai Guadalquivir, dan Torre Fortaleza de la Calahorra, menara pertahanan di ujung jembatan, keduanya didirikan pada abad ke-13 pada masa Raja Ferdinand III, ketika Masjid Raya diubah menjadi katedral dan struktur pertahanan baru dibangun. Dari menara Calahorra, pengunjung bisa memandang kota tua dan sungai dari ketinggian, sekaligus membayangkan peran Cordoba sebagai kota perbatasan dan pusat kekuasaan pada zamannya.
Mengapa Jejak Islam di Cordoba Masih Hidup
Jejak Islam di Cordoba masih hidup bukan hanya karena bangunannya bertahan, tetapi karena nilainya terus diakui dan dipelajari. UNESCO menilai pusat sejarah kota ini sebagai ekspresi hidup dari signifikansi historisnya, dan Masjid Raya sebagai contoh luar biasa dari arsitektur keagamaan Islam. Bagi wisatawan Muslim dari Indonesia, Cordoba memberi kesempatan langka untuk melihat langsung bagaimana peradaban Islam pernah berkembang di ujung barat Eropa, dari seni bangunannya, tata kotanya, hingga jejak kehidupan sehari-hari yang masih terasa di pasar dan gang-gang tuanya.
Tips Singkat Berkunjung ke Cordoba
Jika berencana mengunjungi Cordoba, siapkan waktu setidaknya satu hari penuh agar tidak terburu-buru. Datanglah pagi hari untuk menikmati Masjid Raya dengan lebih tenang, lalu lanjutkan berjalan kaki menyusuri pusat sejarah pada sore hari ketika cahaya matahari melembut. Kenakan alas kaki yang nyaman karena jalanan kota tua berbatu dan paling nikmat dijelajahi dengan berjalan kaki. Periksa jam buka setiap situs sebelum berangkat, karena jam kunjungan dapat berubah, terutama pada hari ibadah dan hari libur. Terakhir, bawalah rasa hormat yang sama seperti ketika mengunjungi situs bersejarah mana pun: jangan menyentuh ukiran dan ornamen, dan abadikan kenangan lewat foto tanpa mengganggu pengunjung lain.
Cordoba mengajarkan bahwa sejarah tidak selalu terkubur di bawah tanah. Kadang ia masih berdiri tegak, dalam bentuk lengkung, tiang, dan gang-gang tua yang setiap hari dilalui orang. Bagi siapa pun yang mencintai sejarah Islam, kota ini adalah pengingat bahwa peradaban pernah menjangkau jauh, dan warisannya masih bisa kita saksikan hingga hari ini.
Sumber:
- Wikipedia bahasa Indonesia, Katedral Kordoba
- UNESCO World Heritage Centre, Historic Centre of Cordoba





