“Mengubah ukuran gir standar menggunakan aftermarket dengan rasio lebih besar bertujuan mendapatkan torsi puncak lebih cepat.
Cocok sekali untuk medan tanjakan curam, gir lebih besar dari putaran rpm mesin bawah sudah bertenaga,” ucap Hendro.
Meski demikian, ada konsekuensi mengubah ukuran gir belakang jadi besar, artinya mengabaikan tenaga akselerasi mesin. Lantaran, tenaga mesin akan habis akibat rasio gigi yang lebih pendek.
Tak jauh berbeda, pergantian ukuran gir belakang di bawah rasio standar dianggap mampu mendongkrak tenaga mesin.
Akselerasi mesin bisa naik, namun sayangnya harus mengorbankan torsi mesin saat menanjak. “Ukuran gir kecil, kecepatan maksimal bisa diraih cukup mudah.
Hanya saja kelemahannya berat bila di jalan tanjakan,” katanya.
Menurut Hendro, untuk pergantian gir belakang ada rumus perhitungan yang harus diperhatikan.
Gir depan dan belakang ketika dihitung hasil akhir yang didapat harus seimbang. Sebagai contoh, gir belakang berukuran 35, sedangkan depan 15, maka rasio yang didapat diambil dari 35/15, yakni memperoleh angka 2,53.
Dari hasil tersebut, nantinya proporsi antara gir belakang dengan torsi yang dihasilkan mesin bisa seimbang.
“Kalau ganti asal ganti takutnya tenaga dan torsi terlalu timpang. Risikonya, nafas mesin jadi pendek tidak sesuai harapan,” ujar Hendro.






