Makan adalah nikmat yang sering kali kita terima tanpa sempat merenung. Padahal, setiap suap makanan yang sampai ke meja kita melewati perjalanan panjang: ditanam, dirawat, dipanen, diolah, dan dihidangkan. Dalam Islam, momen makan tidak dibiarkan berlalu begitu saja. Ia dibuka dengan menyebut nama Allah dan ditutup dengan pujian kepada-Nya, sehingga aktivitas yang tampak sederhana berubah menjadi ibadah.
Doa sebelum dan sesudah makan termasuk doa yang pertama kali diajarkan kepada anak-anak Muslim. Keduanya pendek, mudah dihafal, dan sarat makna. Artikel ini menyajikan teks Arab, transliterasi Latin, dan artinya, beserta penjelasan dan adab yang menyertainya.

Sebelum membaca doanya, penting untuk memahami bahwa doa-doa ini bukan sekadar hafalan. Ia adalah pengakuan bahwa rezeki datang dari Allah, dan rasa syukur atasnya diwujudkan lewat lisan dan sikap. Dengan membiasakan doa ini, kita melatih diri untuk tidak menganggap rezeki sebagai sesuatu yang otomatis ada.
1. Doa Sebelum Makan
Sebelum makan, seorang Muslim dianjurkan menyebut nama Allah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia menyebut nama Allah. Jika ia lupa menyebut nama Allah pada awalnya, hendaklah ia mengucapkan: ‘Bismillahi awwalahu wa akhirahu’ (Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya).” Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (nomor 3767) dan dinilai sahih.
Selain basmalah, doa berikut ini biasa dibaca sebelum makan:
Arab: اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Latin: Allahumma barik lana fima razaqtana wa qina ‘adzabannar.
Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami pada rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa neraka.”
Doa ini mengandung dua permohonan sekaligus: keberkahan pada rezeki dan perlindungan dari api neraka. Keberkahan berarti rezeki yang sedikit terasa cukup, dan yang banyak memberi manfaat. Permohonan perlindungan mengingatkan bahwa tujuan akhir seorang Muslim bukan sekadar kenyang, melainkan selamat di akhirat.
2. Doa Sesudah Makan
Setelah selesai makan, seorang Muslim dianjurkan memuji Allah atas nikmat yang telah diberikan. Doa sesudah makan yang diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berbunyi:
Arab: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Latin: Alhamdulillahilladzi ath‘amana wa saqana wa ja‘alana minal muslimin.
Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, serta menjadikan kami termasuk orang-orang muslim.” Doa ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (nomor 3850).
Tiga nikmat disebutkan dalam doa ini: makan, minum, dan Islam. Makan dan minum menjaga tubuh tetap hidup, sedangkan Islam menjaga hati tetap berada di jalan yang benar. Menggabungkan ketiganya dalam satu pujian mengajarkan bahwa nikmat jasmani dan nikmat iman sama-sama patut disyukuri.
Baca Juga: Doa Memohon Keteguhan Iman: Arab, Latin, dan Artinya dan Doa Memohon Ampunan untuk Orang Tua: Arab, Latin, dan Artinya
3. Adab yang Menyertai Doa Makan
Doa sebelum dan sesudah makan sebaiknya disertai adab makan yang baik. Di antaranya: makan dengan tangan kanan, makan dari makanan yang terdekat, makan secukupnya tanpa berlebihan, serta tidak mencela makanan yang dihidangkan. Adab-adab ini menjaga suasana makan tetap tenang dan penuh syukur.
Selain itu, biasakan makan bersama keluarga bila memungkinkan. Makan bersama mempererat hubungan, memberi kesempatan saling mendoakan, dan membuat anak-anak terbiasa melihat doa dipraktikkan, bukan sekadar dihafal. Jika ada makanan berlebih, bagikan kepada tetangga atau yang membutuhkan; berbagi adalah bentuk syukur yang paling nyata.
4. Mengajarkan Doa Makan kepada Anak
Doa makan adalah pintu masuk yang baik untuk mengajarkan anak tentang syukur. Ajak anak membaca doa bersama sebelum makan, dengan suara yang jelas dan perlahan, hingga ia hafal dengan sendirinya. Jelaskan artinya dengan bahasa yang sederhana: bahwa makanan adalah pemberian Allah, dan doa adalah cara berterima kasih kepada-Nya.
Jangan memarahi anak yang lupa berdoa; cukup ingatkan dengan lembut dan beri contoh. Anak yang tumbuh dengan kebiasaan berdoa sebelum dan sesudah makan akan membawa kebiasaan itu hingga dewasa, dan kelak mengajarkannya lagi kepada anak-anaknya sendiri.
5. Syukur yang Berlanjut Setelah Doa
Doa sesudah makan bukanlah akhir dari syukur, melainkan awalnya. Syukur yang tulus berlanjut dalam sikap: tidak membuang-buang makanan, menghargai orang yang menyiapkan hidangan, dan mengingat mereka yang hari ini tidak seberuntung kita. Seseorang yang benar-benar bersyukur akan berhati-hati dalam mengambil makanan secukupnya dan tidak membiarkan makanan terbuang sia-sia.
Syukur juga diwujudkan dengan menggunakan energi dari makanan untuk kebaikan: bekerja dengan jujur, belajar dengan sungguh-sungguh, dan beribadah dengan khusyuk. Dengan cara ini, doa sebelum dan sesudah makan menjadi pengingat harian bahwa setiap nikmat membawa tanggung jawab untuk memanfaatkannya sebaik mungkin.
Penutup
Doa sebelum dan sesudah makan memang singkat, tetapi maknanya dalam. Ia mengingatkan kita bahwa setiap rezeki berasal dari Allah, dan setiap nikmat layak disyukuri. Dengan membiasakan kedua doa ini, aktivitas makan sehari-hari berubah menjadi momen ibadah yang berulang setiap hari.
Mulailah dari makanan berikutnya: ucapkan basmalah dan doa sebelum makan, nikmati hidangan dengan tenang, lalu tutup dengan hamdalah. Kebiasaan kecil yang dijaga setiap hari inilah yang membentuk pribadi yang bersyukur.
Sumber:
- Sunnah.com, Sunan Abi Dawud 3767 (bab menyebut basmalah atas makanan).
- Sunnah.com, Sunan Abi Dawud 3850 (doa sesudah makan).






