Tekanan terhadap rupiah belum mereda menjelang keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat. Mata uang Indonesia melemah pada awal perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026, dan dibuka pada level Rp18.152 per dolar Amerika Serikat.
Pembukaan tersebut turun 0,04 persen atau tujuh poin dibandingkan penutupan Selasa, 27 Oktober 2026, yang berada pada Rp18.145 per dolar Amerika Serikat. Sementara itu, indeks dolar Amerika Serikat terhadap enam mata uang utama tercatat naik 0,09 persen menjadi 102,415 pada pukul 09.00 waktu Indonesia Barat.
Penguatan dolar semakin membatasi ruang gerak rupiah, sementara tekanan di pasar obligasi domestik juga menjadi perhatian investor menjelang pengumuman kebijakan moneter The Fed. Di dalam negeri, minat investor pada lelang surat utang negara pada Selasa tersebut melemah, dengan total penawaran hanya Rp31,09 triliun, turun 52,1 persen dari lelang sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak November 2024.
Meski permintaan melemah, rata-rata tertimbang imbal hasil yang dimenangkan untuk seri FR0111 dengan jatuh tempo sekitar sepuluh tahun mencapai 7,55 persen. Pemerintah hanya menyerap Rp20,65 triliun, di bawah target indikatif Rp30 triliun.
Melemahnya permintaan surat utang mencerminkan kehati-hatian investor di pasar obligasi domestik. Kondisi ini berpotensi menambah tekanan pada rupiah, terutama jika disertai arus keluar modal asing dari pasar keuangan Indonesia.
Tekanan itu terlihat pada pembukaan Rabu, 28 Oktober 2026, ketika mata uang Indonesia melemah dan dibuka pada level Rp18.152 per dolar Amerika Serikat, turun 0,04 persen atau tujuh poin dibandingkan penutupan Selasa, 27 Oktober 2026, yang berada pada Rp18.145 per dolar Amerika Serikat. Sementara itu, indeks dolar Amerika Serikat terhadap enam mata uang utama tercatat naik 0,09 persen menjadi 102,415 pada pukul 09.00 waktu Indonesia Barat, menjelang keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
Penguatan dolar semakin membatasi ruang gerak rupiah, sementara tekanan di pasar obligasi domestik juga menjadi perhatian investor menjelang pengumuman kebijakan moneter The Fed. Di dalam negeri, minat investor pada lelang surat utang negara pada Selasa tersebut melemah, dengan total penawaran hanya Rp31,09 triliun, turun 52,1 persen dari lelang sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak November 2024. Meski permintaan melemah, rata-rata tertimbang imbal hasil yang dimenangkan untuk seri FR0111 dengan jatuh tempo sekitar sepuluh tahun mencapai 7,55 persen, dan pemerintah hanya menyerap Rp20,65 triliun, di bawah target indikatif Rp30 triliun, sehingga melemahnya permintaan surat utang mencerminkan kehati-hatian investor di pasar obligasi domestik dan berpotensi menambah tekanan pada rupiah, terutama jika disertai arus keluar modal asing dari pasar keuangan Indonesia.
Baca Juga: Biosolusi Diproyeksikan Lampaui Ekspor Kopi, Sumbang Ekonomi hingga Rp 36 Triliun
Sumber:
- Jawawa – Rupiah Opens at Rp18,152 per US Dollar, 28 Oktober 2026




