Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Di antara penyakit hati yang paling merusak hubungan dengan orang terdekat adalah dengki. Ia tidak selalu tampak dalam ucapan kasar, tetapi tumbuh diam-diam ketika kita sulit merasa senang melihat kebaikan yang diterima saudara, keluarga, atau tetangga.
Dengki berbeda dengan keinginan untuk maju. Keinginan yang sehat mendorong kita berusaha lebih baik tanpa mengharapkan hilangnya nikmat orang lain. Dengki justru membuat hati sempit: keberhasilan orang lain terasa sebagai ancaman, padahal rezeki setiap orang sudah diatur oleh Allah.
Khutbah I
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah membagi rezeki dengan hikmah-Nya. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.
Jamaah yang dimuliakan Allah, dengki paling berbahaya justru ketika diarahkan kepada orang terdekat. Kepada keluarga, ia merusak silaturahim dan menimbulkan prasangka. Kepada tetangga, ia merusak kerukunan dan membuat bantuan terasa berat. Padahal, keluarga dan tetangga adalah orang yang paling dekat dengan kita dalam suka maupun duka.
Dengki juga merugikan pelakunya sendiri. Hati yang dengki sulit bersyukur, sulit tidur tenang, dan mudah mencari-cari kekurangan orang lain. Waktu yang seharusnya dipakai untuk memperbaiki diri justru habis untuk membandingkan hidup. Akibatnya, amal menjadi kering karena niatnya tidak lagi ikhlas.
Obat dengki dimulai dari keyakinan bahwa nikmat orang lain tidak mengurangi jatah kita. Rezeki tidak seperti kue yang habis bila dibagi; ia adalah pemberian Allah yang luas. Karena itu, ketika melihat saudara berhasil, doakanlah kebaikan untuknya. Doa yang tulus justru membersihkan hati kita sendiri.
Biasakan pula bersyukur atas nikmat yang kita miliki, sekecil apa pun. Orang yang sibuk mensyukuri nikmatnya sendiri tidak sempat iri terhadap nikmat orang lain. Bila perlu, batasi perbandingan yang tidak sehat, terutama dari media sosial yang hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan orang lain.
Barakallahu lii wa lakum fil Qur’anil ‘azhim, wa nafa’ani wa iyyakum bima fihi minal ayati wa dzikril hakim.
Khutbah II
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, dan salawat semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jamaah yang dirahmati Allah, marilah kita jaga silaturahim dengan keluarga dan tetangga, saling mendoakan, saling membantu, dan ikut berbahagia atas kebaikan mereka.
Semoga Allah membersihkan hati kita dari dengki, menggantinya dengan syukur dan lapang dada, serta menjaga hubungan kita dengan keluarga dan tetangga dalam kebaikan. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa kaum muslimin dan muslimat.
Sumber: Tema ini diadaptasi dari khutbah NU Online berjudul “Khutbah Jumat: Bahaya Dengki terhadap Keluarga dan Tetangga” di https://islam.nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-bahaya-dengki-terhadap-keluarga-dan-tetangga-qKefl


