Buletin Islam — Keluarga adalah anugerah Allah yang paling dekat dengan kita. Dari keluargalah kita belajar kasih sayang, mendapat doa yang tulus, dan menemukan tempat pulang ketika dunia terasa berat. Namun kesibukan, jarak, dan kesalahpahaman sering kali membuat hubungan keluarga merenggang tanpa kita sadari.
Di sinilah silaturahmi menemukan maknanya: menyambung kembali tali persaudaraan, merawat kasih yang mulai pudar, dan menjaga keberkahan yang Allah titipkan dalam hubungan kekeluargaan. Khutbah Jumat kali ini mengajak kita merenungkan keutamaan silaturahmi dan bagaimana menjaganya di tengah kehidupan yang semakin sibuk.

Khutbah I
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai hamba-hamba Allah, aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar bertakwa kepada Allah, karena sungguh orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang beruntung.
Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Artinya: “Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa: 1)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Dalam ayat ini Allah menggandengkan perintah bertakwa dengan perintah menjaga silaturahmi. Ini menunjukkan bahwa menyambung hubungan kekeluargaan bukan sekadar urusan sopan santun, melainkan bagian dari ketakwaan itu sendiri. Orang yang memutus silaturahmi berarti memutus salah satu jalan keberkahan yang Allah bentangkan dalam hidupnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi. Janji ini begitu nyata dalam kehidupan: keluarga yang rukun saling membantu ketika ada yang kesulitan, saling mendoakan ketika ada yang diuji, dan saling menguatkan ketika ada yang jatuh. Rezeki yang dimaksud bukan hanya harta, melainkan juga ketenangan, kesehatan, dan keberkahan umur.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Bahaya Dengki terhadap Keluarga dan Tetangga
Silaturahmi dimulai dari yang paling dekat: berbakti kepada kedua orang tua, menyayangi saudara kandung, dan memperhatikan kerabat. Bentuknya pun sederhana: mengunjungi orang tua, menelepon saudara yang jauh, membantu keponakan yang membutuhkan, atau sekadar mengucapkan salam dan menanyakan kabar. Yang terpenting adalah ketulusan, bukan besar kecilnya pemberian. Sebuah kunjungan singkat yang tulus jauh lebih berharga daripada hadiah mahal yang diberikan dengan hati yang dingin.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Berbakti kepada Orang Tua dan Menyayangi Sesama
Tentu ada rintangan yang sering menghalangi silaturahmi: kesibukan yang tak berujung, jarak yang jauh, dan yang paling berat, rasa sakit hati karena perselisihan. Ada kalanya sengketa warisan, salah paham, atau ucapan yang menyakitkan membuat saudara saling menjauh bertahun-tahun. Di sinilah iman diuji: siapa yang lebih dahulu memaafkan dan mengulurkan tangan, dialah yang lebih mulia di sisi Allah. Memulai silaturahmi setelah perselisihan membutuhkan keberanian, tetapi justru di situlah letak pahala yang besar.
Marilah kita periksa kembali hubungan kita dengan keluarga: sudahkah kita menghubungi orang tua hari ini, sudahkah kita menanyakan kabar saudara kita, sudahkah kita memaafkan kerabat yang pernah menyakiti kita? Jangan menunggu hari raya untuk bersilaturahmi, karena keberkahan tidak mengenal musim. Keluarga yang dijaga dengan kasih sayang akan menjadi surga kecil di dunia sebelum surga yang sesungguhnya.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya. Wahai hamba-hamba Allah, aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar bertakwa kepada Allah. Ketahuilah, Allah memerintahkan kalian dengan suatu perintah yang Dia sendiri memulainya, lalu berfirman: Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan. (QS. Al-Ahzab: 56)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Marilah kita menutup khutbah ini dengan tekad yang baru: jadikan silaturahmi sebagai kebiasaan, bukan sekadar acara tahunan. Mulailah dari langkah kecil hari ini — sebuah telepon kepada orang tua, sebuah pesan kepada saudara, sebuah kunjungan kepada kerabat. Niscaya Allah melapangkan rezeki kita, memberkahi umur kita, dan menjaga keluarga kita dalam kasih sayang-Nya.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, ridhailah para khalifah yang mendapat petunjuk dan seluruh sahabat. Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, yang masih hidup maupun yang telah wafat. Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.
Sumber:
Kementerian Agama RI – Al-Qur’an dan Terjemahnya – https://quran.kemenag.go.id/
Sunnah.com – Shahih al-Bukhari, Kitab Adab – https://sunnah.com/bukhari
NU Online – Khutbah Jumat – https://nu.or.id/






