Dataran Tinggi Dieng di perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, Jawa Tengah, adalah salah satu kawasan wisata paling lengkap di Pulau Jawa. Terletak pada ketinggian sekitar 1.800 hingga 2.093 meter di atas permukaan laut, Dieng menawarkan udara dingin yang segar, lanskap vulkanik yang masih aktif, serta jejak peradaban kuno yang berusia lebih dari seribu tahun. Dalam beberapa tahun terakhir, Dieng berkembang sebagai destinasi wisata alam sekaligus budaya, dan berikut tujuh tempat yang wajib Anda kunjungi saat berada di sana.
Sebelum berangkat, ada baiknya memahami karakter kawasan ini. Lanskap Dieng dibentuk oleh aktivitas vulkanik yang masih berlangsung hingga sekarang, sehingga kawah aktif, danau vulkanik, dan sumber air panas menjadi pemandangan sehari-hari. Jalan menuju Dieng umumnya melalui Kota Wonosobo, dan waktu terbaik berkunjung adalah musim kemarau antara Juli hingga Oktober, ketika langit cerah dan matahari terbit tampak paling indah. Perlu diketahui pula, Dieng tidak menerapkan satu tiket terusan untuk seluruh destinasi, dan pengunjung akan melewati Tempat Pembayaran Retribusi (TPR) saat memasuki kawasan.

1. Bukit Sikunir, Sunrise dari Desa Tertinggi di Jawa
Bukit Sikunir berada di Desa Sembungan yang berada pada ketinggian sekitar 2.300 meter di atas permukaan laut, menjadikannya salah satu desa tertinggi di Jawa. Jalur pendakiannya relatif pendek dengan waktu tempuh sekitar 30–45 menit sehingga dapat diikuti oleh wisatawan dari berbagai usia. Dari puncaknya, Anda akan menyaksikan matahari terbit di atas lautan awan dengan latar deretan gunung, pengalaman yang membuat banyak orang rela berangkat sebelum fajar.
2. Kawah Sikidang, Lanskap Vulkanik yang Mudah Dijangkau
Kawah Sikidang merupakan salah satu kawah aktif yang paling mudah dijangkau di Dieng, dengan jalur pejalan kaki yang tertata rapi. Jejak nama Sikidang berasal dari karakter kawah yang dalam catatan geologi kerap berpindah titik aktifnya, seperti kidang atau kijang yang selalu berpindah tempat. Di sini Anda bisa melihat tanah yang menggelembung, lumpur mendidih, dan asap belerang dari jarak aman, bukti nyata bahwa Dieng masih hidup secara geologis.
3. Telaga Warna, Danau yang Warnanya Selalu Berubah
Telaga Warna adalah danau vulkanik yang airnya bisa tampak hijau, biru, hingga kuning, tergantung kandungan belerang dan pantulan cahaya matahari. Fenomena inilah yang membuat telaga ini dinamai Telaga Warna. Pemandangan terbaik didapat dari gardu pandang di ketinggian, tempat hamparan air berwarna berpadu dengan hutan pinus di sekelilingnya.
Baca Juga: 5 Wisata Alam di Lombok yang Menenangkan dan Wisata Religi Yogyakarta yang Penuh Makna
4. Telaga Pengilon, Kembaran yang Lebih Tenang
Berdampingan dengan Telaga Warna, Telaga Pengilon memiliki karakter yang berbeda: airnya lebih jernih dan suasananya jauh lebih tenang. Menurut cerita setempat, telaga ini dinamai Pengilon karena airnya yang bening bak cermin. Jika Telaga Warna ramai oleh pengunjung, Telaga Pengilon adalah tempat yang tepat untuk bersantai dan menikmati keheningan dataran tinggi.
5. Batu Ratapan Angin, Gardu Pandang Alami
Di kawasan yang sama terdapat Batu Ratapan Angin, sebuah gardu pandang alami berupa tebing batu yang menjadi lokasi favorit untuk memotret panorama. Dari sini, kedua telaga terlihat berdampingan dari ketinggian, lengkap dengan hamparan perbukitan hijau di kejauhan. Datanglah pada pagi hari agar kabut belum menutupi pemandangan.
6. Kompleks Candi Arjuna, Candi Hindu Tertua di Jawa Tengah
Kompleks Candi Arjuna merupakan kelompok candi Hindu yang dibangun sekitar abad ke-8 pada masa Kerajaan Kalingga dan Mataram Kuno, menjadikannya salah satu kompleks candi Hindu tertua di Jawa Tengah. Selain menjadi objek wisata, kawasan ini juga merupakan situs arkeologi penting yang menunjukkan peradaban awal di dataran tinggi. Berjalan di antara candi-candi batu yang diselimuti kabut tipis adalah pengalaman yang sulit dilupakan.
7. Gardu Pandang Tieng, Panorama Tanpa Harus Mendaki
Bagi pengunjung yang tidak ingin mendaki, Gardu Pandang Tieng menyediakan pemandangan pegunungan dan lembah Dieng tanpa perlu berjalan jauh. Tempat ini cocok untuk menikmati matahari terbit atau terbenam dengan santai, sekaligus menjadi persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi lain di sekitar Dieng.
Tips Berkunjung agar Liburan Makin Nyaman
Datanglah sepagi mungkin, terutama jika target utama Anda adalah sunrise Sikunir, karena pendakian dimulai sebelum fajar dan tempat terbaik cepat dipenuhi pengunjung. Kenakan pakaian hangat berlapis, sarung tangan, dan sepatu yang nyaman, sebab suhu Dieng bisa turun drastis pada pagi hari. Siapkan uang tunai secukupnya karena setiap destinasi memiliki tiket sendiri dan tidak semua tempat menerima pembayaran non-tunai. Terakhir, jaga kebersihan dan patuhi rambu di kawasan kawah aktif: jangan melewati pembatas demi foto, karena belerang dan tanah yang rapuh bisa membahayakan.
Sebelum meninggalkan Dieng, sempatkan mencicipi kuliner khas seperti mie ongklok dan tempe kemul, dan bawalah jaket tebal karena suhu malam bisa mendekati nol derajat. Jika waktu Anda tepat, saksikan pula Dieng Culture Festival yang setiap tahun memadukan atraksi budaya dan pertunjukan seni, dengan agenda utama prosesi ruwatan anak berambut gimbal, tradisi masyarakat Dieng yang terkenal hingga mancanegara.
Sumber: AyoJelajah.id, “Panduan Wisata Dieng: Sunrise Sikunir, Kawah Sikidang, hingga Candi Tertua di Jawa Tengah”, https://www.ayojelajah.id/wisata-kuliner/08175141/panduan-wisata-dieng-sunrise-sikunir-kawah-sikidang-hingga-candi-tertua-di-jawa-tengah (Kamis, 30 Juli 2026, oleh Hengky Sulaksono).



