Kerja keras dan tawakal adalah dua sayap yang harus dimiliki bersama oleh seorang Muslim. Bekerja tanpa tawakal membuat hati gelisah, selalu khawatir dengan hasil, dan mudah putus asa ketika gagal. Sebaliknya, tawakal tanpa kerja keras hanyalah kemalasan yang dibungkus dengan nama agama. Islam mengajarkan keseimbangan: berusaha sekuat tenaga sesuai kemampuan, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan hati yang tenang. Di sinilah letak hikmah kerja keras dan tawakal yang sesungguhnya.
Al-Qur’an menegaskan nilai kerja keras dalam Surat An-Najm ayat 39, yang artinya: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” Ayat ini menjadi pengingat bahwa rezeki dan keberhasilan tidak datang dengan sendirinya. Allah telah menetapkan sunnah-Nya: siapa yang berusaha, ia akan memetik hasilnya. Seorang petani harus menanam dan merawat tanamannya sebelum memanen; seorang pelajar harus belajar sebelum lulus; seorang pedagang harus membuka tokonya sebelum mendapatkan pembeli. Usaha adalah bagian dari ketetapan Allah atas kehidupan manusia.

Sekelompok perempuan membawa kayu bakar di jalan pedesaan, simbol kerja keras. Foto: Benhur Emmanuel via Pexels.
Lalu, apa itu tawakal? Imam al-Ghazali merumuskan tawakal sebagai menyandarkan diri kepada Allah ketika menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepada-Nya dalam waktu kesukaran, teguh hati ketika ditimpa bencana, disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram. Sementara itu, Abu Zakaria Ansari mendefinisikan tawakal sebagai keteguhan hati dalam menyerahkan urusan kepada pihak lain yang dipercaya, karena adanya rasa amanah dan keyakinan bahwa urusan itu akan ditangani dengan baik.
Tawakal lahir dari keyakinan yang bulat kepada Allah. Dalam tauhid, seorang Muslim diajari bahwa hanya Allah yang menciptakan segala-galanya, pengetahuan-Nya Maha Luas, dan Dialah yang menguasai serta mengatur alam semesta. Keyakinan inilah yang mendorongnya menyerahkan segala persoalan kepada Allah, sehingga hatinya menjadi tenang dan tenteram serta tidak ada rasa curiga, karena Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Tawakal bukanlah pasrah yang pasif, melainkan penyerahan yang aktif setelah usaha dilakukan.
Baca Juga: Hikmah Hidup Sederhana: Tenang, Cukup, dan Bahagia
Baca Juga: Hikmah Menjaga Waktu: Bekal yang Tidak Bisa Kembali
Sayangnya, masih banyak orang yang salah paham dalam melakukan tawakal. Ada yang enggan berusaha dan bekerja, tetapi hanya menunggu dengan alasan sudah bertawakal. Orang semacam ini berpikir: tidak perlu belajar, jika Allah menghendaki pandai tentu ia menjadi orang pandai; tidak perlu bekerja, jika Allah menghendaki kaya tentulah ia kaya. Semua itu sama saja dengan seorang yang sedang lapar perutnya, sekalipun ada berbagai makanan di hadapannya, tetapi ia berpikir bahwa jika Allah menghendaki ia kenyang, tentulah ia kenyang. Jika pendapat seperti ini dipegang teguh, pastilah ia akan menyengsarakan dirinya sendiri.
Menurut ajaran Islam, tawakal adalah tumpuan terakhir dalam suatu usaha atau perjuangan. Artinya, tawakal yang sebenarnya ialah menyerahkan diri kepada Allah setelah berusaha keras dalam berikhtiar dan bekerja sesuai kemampuan, dalam mengikuti sunnah Allah yang Dia tetapkan. Contohnya, seseorang yang meletakkan sepeda di muka rumah, setelah menguncinya rapat-rapat, barulah ia bertawakal. Begitu pula pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ada seorang sahabat yang meninggalkan untanya tanpa diikat lebih dahulu. Ketika ditanya mengapa tidak diikat, ia menjawab, “Saya telah benar-benar bertawakal kepada Allah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membenarkan jawaban itu dan bersabda, “Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah kepada Allah.”
Kisah unta tersebut adalah pelajaran yang sangat jelas: ikhtiar dilakukan terlebih dahulu, baru setelah itu bertawakal. Mengikat unta adalah bagian dari usaha; menyerahkan sisanya adalah bagian dari tawakal. Siapa yang hanya mengikat tanpa tawakal, ia bergantung pada usahanya sendiri dan akan gelisah ketika usahanya gagal. Siapa yang hanya bertawakal tanpa mengikat, ia lalai terhadap tanggung jawabnya. Keduanya harus berjalan bersama, sebagaimana sepeda yang dikunci rapat sebelum pemiliknya tenang meninggalkannya.
Allah menjanjikan kecukupan bagi orang yang bertawakal dengan cara yang benar. Dalam Surat At-Talaq ayat 3, Allah berfirman yang artinya: “Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” Janji ini bukanlah undangan untuk bermalas-malasan, melainkan penghibur bagi mereka yang sudah berusaha sekuat tenaga: ketika hasil belum sesuai harapan, jangan berputus asa, karena Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik dan akan mencukupkan keperluan hamba-Nya.
Bagaimana cara memadukan kerja keras dan tawakal dalam kehidupan sehari-hari? Pertama, luruskan niat. Jadikan pekerjaan sebagai ibadah dan jalan mencari rezeki yang halal, bukan sekadar mengejar dunia. Kedua, bekerjalah dengan sungguh-sungguh sesuai kemampuan. Lakukan yang terbaik dalam setiap tugas, sekecil apa pun itu, karena Allah menyukai hamba yang apabila bekerja, ia melakukannya dengan itqan, yaitu dengan sebaik-baiknya. Ketiga, sertai usaha dengan doa. Mintalah pertolongan dan kemudahan kepada Allah di setiap langkah. Keempat, terimalah hasil dengan lapang dada. Jika berhasil, bersyukurlah dan jangan sombong; jika belum berhasil, bersabarlah, evaluasi, dan coba lagi dengan cara yang lebih baik. Kelima, jangan membandingkan diri secara berlebihan dengan orang lain, karena setiap orang memiliki jalan rezekinya masing-masing.
Kerja keras tanpa tawakal membuat manusia menjadi budak hasil, sedangkan tawakal tanpa kerja keras membuat manusia menjadi penonton kehidupan. Keduanya, jika dipadukan, melahirkan ketenangan: bekerja dengan penuh semangat karena yakin rezeki telah dijamin, dan tenang menghadapi hasil karena yakin Allah Maha Bijaksana. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mampu bekerja sungguh-sungguh di siang hari, lalu tidur dengan tenang di malam hari karena hati telah bersandar kepada Allah.
Sumber:
Wikipedia bahasa Indonesia – Tawakal: https://id.wikipedia.org/wiki/Tawakal






