Sedekah adalah salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Ia tidak hanya meringankan beban orang yang menerima, tetapi juga menjadi bekal kebaikan bagi orang yang memberi. Di era digital, bersedekah menjadi semakin mudah. Seseorang dapat menyalurkan bantuan melalui situs resmi maupun aplikasi, tanpa harus hadir secara langsung. Namun kemudahan ini perlu diiringi ketulusan niat dan cara memberi yang baik, agar pahala sedekah tetap terjaga dan tidak gugur karena perilaku yang keliru.
Seorang alumnus Pondok Pesantren Nurul Cholil yang juga perumus Lembaga Bahtsul Masail di pesantren tersebut menjelaskan tiga perilaku yang perlu diwaspadai. Peringatan ini merujuk pada Surat Al-Baqarah ayat 264, yang menegaskan agar orang beriman tidak membatalkan pahala sedekah dengan mengungkit pemberian dan menyakiti penerima. Ayat tersebut juga menyebut orang yang menginfakkan hartanya karena riya, yaitu karena ingin mendapatkan pujian manusia, sebagai contoh yang perlu dihindari.
Perilaku pertama adalah mengungkit pemberian. Sedekah yang sudah diberikan sebaiknya dilepaskan dengan ikhlas, tanpa terus-menerus diingat apalagi disebut di hadapan penerima atau orang lain. Mengungkit pemberian dapat melukai perasaan penerima dan mengubah kebaikan menjadi beban psikologis. Padahal, tujuan sedekah adalah menolong, bukan menuntut balasan berupa rasa terima kasih yang berlebihan atau pengakuan atas kebaikan yang telah dilakukan.
Perilaku kedua adalah menyakiti penerima, baik melalui ucapan maupun sikap. Kata-kata yang merendahkan, nada yang menggurui, atau sikap yang membuat penerima merasa kecil dapat merusak nilai sedekah. Dalam Islam, cara memberi sama pentingnya dengan apa yang diberikan. Memberi dengan lembut, menghormati martabat penerima, dan menjaga perasaan mereka adalah bagian dari adab sedekah yang tidak boleh diabaikan, meskipun bantuan yang diberikan jumlahnya tidak besar.
Perilaku ketiga adalah riya, yaitu beramal karena ingin dipuji manusia. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 264, orang yang berinfak karena riya diumpamakan seperti batu licin yang tertutup tanah tipis. Dari luar, tanah itu tampak seperti lahan subur, tetapi setelah tersiram hujan lebat, tanah itu hilang dan yang tersisa hanyalah batu yang keras. Penafsiran ini menunjukkan bahwa amal yang dilakukan karena ingin dipuji tampak baik dari luar, tetapi tidak memiliki akar yang kokoh di dalam hati.
Peringatan tentang riya juga diperkuat oleh hadis yang menyebut riya sebagai syirik kecil yang dikhawatirkan menimpa umat. Dalam hadis tersebut digambarkan bahwa pada hari pembalasan, orang yang beramal karena pamer diperintahkan untuk meminta balasan kepada pihak yang dahulu menjadi tujuan pamernya. Gambaran ini menjadi pengingat yang kuat bahwa pujian manusia tidak dapat menggantikan pahala dari Allah, dan bahwa niat adalah penentu utama nilai sebuah amal.
Di media sosial, tantangan menjaga niat menjadi semakin nyata. Membagikan kegiatan sedekah memang dapat menginspirasi orang lain, tetapi publikasi amal perlu diwaspadai apabila justru mendorong seseorang mengharapkan pujian, tanda suka, atau tanggapan positif. Banyaknya respons di media sosial tidak dapat dijadikan ukuran diterimanya amal. Karena itu, seseorang perlu memeriksa kembali tujuan sebelum mengunggah, serta menjaga agar perhatian terhadap respons orang lain tidak menggeser tujuan utama, yaitu mencari rida Allah.
Pada akhirnya, sedekah yang baik adalah sedekah yang memberi manfaat sekaligus menjaga hati. Memberi dengan ikhlas, tidak mengungkit, tidak menyakiti penerima, dan tidak mencari pujian adalah langkah-langkah sederhana yang dapat dipraktikkan setiap hari. Dengan menjaga adab ini, sedekah tidak hanya membantu sesama di dunia, tetapi juga menjadi bekal yang diharapkan tetap bernilai di akhirat. Informasi seputar Islam lainnya dapat dibaca melalui kategori Info Islam di Buletin Islam.
Baca Juga: Majelis Ilmu dan Ketenangan Hati: Keutamaan Duduk di Majelis Ilmu bagi Seorang Muslim
Sumber:







