SERI 2/7 — Profil Syaikh Nawawi al-Bantani: Ulama Banten yang Mengajar di Makkah

Nama Syaikh Nawawi al-Bantani selalu disebut ketika orang membicarakan ulama Nusantara yang harum namanya hingga ke Tanah Suci. Ia bukan sekadar tokoh daerah, melainkan guru yang murid-muridnya tersebar di berbagai penjuru, dari pesantren di Jawa hingga majelis ilmu di Makkah. Dari Banten ia berangkat, di Makkah ia mengajar, dan karyanya masih dibaca hingga hari ini. Kisahnya menunjukkan bahwa ilmu yang dipelajari dengan sungguh-sungguh dapat memberi manfaat jauh melampaui tempat kelahirannya.

Nama lengkapnya Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani at-Tanari asy-Syafi’i. Ia lahir di Tanara, Serang, Banten, sekitar tahun 1230 Hijriah atau 1813 Masehi, dari pasangan Umar bin Arabi al-Bantani dan Zubaedah. Ayahnya adalah ulama setempat, sehingga sejak kecil Nawawi tumbuh di lingkungan yang akrab dengan pengajian, kitab, dan majelis ilmu. Ia wafat di Makkah pada 1314 Hijriah atau 1897 Masehi, dan dimakamkan di Jannatul Mu’alla, Makkah.

Menara masjid yang menjulang dengan arsitektur Islam
Menara Masjid Hassan II di Casablanca, Maroko, dengan arsitektur Islam yang megah. Foto: Anouar Rahmouni / Pexels.

Sejak usia lima tahun, Nawawi kecil mulai belajar agama langsung dari ayahnya. Ia mempelajari bahasa Arab, fikih, tauhid, Al-Qur’an, dan tafsir bersama saudara-saudaranya. Pada usia delapan tahun, ia berguru kepada K.H. Sahal al-Bantani, kemudian melanjutkan belajar kepada Syekh Baing Yusuf di Purwakarta. Kisah masa mudanya yang sering diceritakan adalah bahwa sebelum genap berusia lima belas tahun, ia sudah mengajar banyak orang di sekitarnya. Pada usia lima belas tahun, ia menunaikan haji dan kemudian berguru kepada sejumlah ulama masyhur di Makkah.

Guru-Guru dan Perjalanan ke Makkah

Di Makkah, Nawawi menimba ilmu dari banyak guru. Di antara nama-nama yang tercatat sebagai gurunya adalah ayahnya sendiri, Syekh Umar bin Arabi al-Bantani, K.H. Sahal al-Bantani, Syekh Baing Yusuf, Syekh Ahmad Khatib asy-Syambasi, Syekh Ahmad Zaini Dahlan, Syekh Abdul Ghani al-Bimawi, dan Syekh Yusuf Sumbulaweni. Daftar ini memperlihatkan betapa luasnya jaringan keilmuan yang ia masuki: guru-gurunya berasal dari Nusantara maupun dari Hijaz, dan bidang yang dipelajarinya mencakup fikih, tauhid, tafsir, tasawuf, hingga hadis.

Setelah tiga tahun bermukim di Makkah pada kunjungan pertamanya, Nawawi sempat pulang ke Banten sekitar tahun 1828. Di tanah air ia menyaksikan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan pemerintah kolonial Belanda terhadap rakyat. Ia kemudian kembali ke Makkah, tepatnya pada masa puncak Perang Diponegoro tahun 1830, setelah mendapat tekanan dan tuduhan sebagai pengikut Pangeran Diponegoro. Di Makkah ia kembali memperdalam ilmu kepada guru-gurunya, dan dari sanalah namanya semakin masyhur.

Baca Juga: Profil Sunan Kalijaga: Dakwah Lewat Budaya dan Kesenian | Adab Menuntut Ilmu: Menghormati Guru dan Menjaga Niat

Mengajar di Makkah dan Menjadi Imam Masjidil Haram

Nawawi mulai masyhur ketika menetap di Syi’ib Ali, Makkah. Ia mengajar di halaman rumahnya, menyampaikan pelajaran tauhid, fikih, tafsir, dan tasawuf kepada para penuntut ilmu yang datang dari berbagai negeri. Majelisnya menjadi tempat berkumpulnya komunitas al-Jawi, sebutan bagi para pelajar dan perantau dari Nusantara di Makkah. Dari majelis sederhana itu, pengaruhnya meluas hingga ke Suriah, Mesir, Turki, dan Hindustan.

Puncak pengakuan atas keilmuannya adalah ketika ia ditunjuk sebagai Imam Masjidil Haram, menggantikan Syekh Ahmad Khatib asy-Syambasi. Karena kemasyhurannya itu, ia dijuluki Sayyid Ulama al-Hijaz, yang berarti pemimpin ulama Hijaz, serta Imam Ulama al-Haramain, yaitu imam ulama dua kota suci. Gelar lain yang disematkan kepadanya antara lain Nawawi at-Tsani atau Nawawi kedua, al-Imam wa al-Fahm al-Mudaqqiq, dan Bapak Kitab Kuning Indonesia. Gelar-gelar itu bukan sekadar pujian, melainkan cerminan kedalaman ilmu dan luasnya karya yang ia hasilkan.

Karya-Karya yang Masih Dibaca

Syaikh Nawawi adalah ulama yang sangat produktif. Jumlah karyanya disebut tidak kurang dari 115 kitab, meliputi fikih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis, sebagian besar ditulis dalam bahasa Arab. Di antara karya-karyanya yang paling dikenal adalah Tafsir al-Munir, yang juga disebut Murah Labid, sebuah tafsir yang oleh sebagian kalangan dinilai sangat monumental. Karya tafsir ini menunjukkan kemampuannya menjelaskan Al-Qur’an dengan bahasa yang lugas dan sistematis.

Di bidang fikih, ia menulis Kasyifah al-Saja, syarah atau penjelasan atas kitab Safinah al-Najah karya Syekh Salim bin Sumeir al-Hadhrami, kitab fikih yang banyak dipelajari di pesantren. Ia juga menulis Nihayah al-Zain, syarah atas Qurrah al-Ain bi Muhimmah al-Din, serta Maraqi al-Ubudiyyah, syarah atas Matan Bidayah al-Hidayah. Di bidang akhlak dan tasawuf, karyanya antara lain Nashaih al-Ibad, syarah atas al-Manbahat ala al-Isti’dad li Yaum al-Mi’ad, dan Qami’ al-Thughyan, syarah atas Mandhumah Syu’b al-Iman. Di bidang akidah, ia menulis Tijan al-Darari, syarah atas Matan al-Baijuri, serta Nur al-Dhalam atas Mandhumah Aqidah al-Awwam.

Murid-Murid yang Menjadi Ulama Besar

Salah satu warisan terbesar Nawawi adalah murid-muridnya. Di antara murid yang kemudian menjadi ulama berpengaruh adalah Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi, Syekh Kholil al-Bangkalani dari Madura, Syekh Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri, dan Syekh Arsyad Thawil al-Bantani, pejuang Geger Cilegon 1888. Nama-nama lain yang tercatat sebagai muridnya adalah K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, dan K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, serta K.H. Sholeh Darat as-Samarani. Fakta bahwa dua pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia pernah menimba ilmu darinya menunjukkan betapa sentral posisinya dalam sejarah keislaman Nusantara.

Selain mengajar ilmu agama, Nawawi juga menanamkan makna kemerdekaan dan sikap anti-kolonialisme dengan cara yang halus kepada murid-muridnya. Ia mendorong komunitas al-Jawi di Makkah untuk peduli pada perjuangan di tanah air, karena dengan kemerdekaan, ajaran Islam akan lebih mudah dilaksanakan di Nusantara. Perhatian pemerintah kolonial Belanda terhadap pembinaannya atas komunitas al-Jawi bahkan membuat mereka mengutus penasihat pemerintah, Christian Snouck Hurgronje, berkunjung ke Makkah pada tahun 1884-1885 untuk meneliti kegiatan tersebut.

Teladan untuk Hari Ini

Kisah Nawawi al-Bantani memberi beberapa teladan yang masih relevan. Pertama, belajar dimulai dari rumah dan dari guru yang dekat, lalu dilanjutkan dengan kesungguhan hingga ke pusat ilmu pada zamannya. Kedua, ilmu tidak berhenti pada diri sendiri: ia diajarkan, ditulis, dan diwariskan melalui kitab dan murid. Ketiga, kecintaan pada tanah air tidak bertentangan dengan keluasan wawasan: justru dari Makkah, Nawawi tetap memikirkan nasib bangsanya dan mendorong murid-muridnya menjadi kader yang berintegritas.

Setiap tahun, haul atau peringatan wafatnya Syaikh Nawawi al-Bantani diadakan di tanah air, antara lain di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara di Tanara, Serang. Peringatan itu bukan sekadar mengenang, melainkan mengingatkan bahwa Banten pernah melahirkan ulama yang menjadi rujukan internasional. Bagi pembaca hari ini, mengenal Nawawi berarti mengenal akar tradisi keilmuan Nusantara yang mendunia: dari sebuah desa kecil di Tanara, ilmunya sampai ke Masjidil Haram, dan dari Masjidil Haram, ilmunya kembali menyuburkan pesantren-pesantren di Indonesia.

Sumber:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *