SERI 3/7 Profil Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, Guru Para Ulama Nusantara

SERI 3/7 Profil Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, Guru Para Ulama Nusantara

Di antara nama-nama besar ulama Nusantara, Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan menempati posisi yang sangat istimewa. Ia bukan hanya dikenal sebagai seorang kiai yang alim, melainkan juga sebagai guru yang melahirkan banyak ulama besar, yang kemudian memimpin pesantren, organisasi, dan gerakan keislaman di Indonesia.

Julukan Syaikhona, yang berarti guru kami, melekat padanya bukan karena ia mengejar gelar, melainkan karena begitu banyak ulama yang merasa berhutang budi atas ilmu dan bimbingannya. Kisah hidupnya menjadi teladan tentang ketekunan belajar, kesederhanaan, dan keikhlasan mengajar tanpa pamrih.

SERI 3/7 Profil Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, Guru Para Ulama Nusantara
Foto: el jusuf via Pexels

Masa Kecil dan Awal Belajar

Syaikhona Kholil lahir di Martapura, Kabupaten Bangkalan, Madura, pada 11 Jumadil Akhir 1235 Hijriah, sebagaimana dicatat dalam artikel biografi di NU Online Jombang. Sejak kecil ia tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan ilmu agama. Ayahnya, Abdul Lathif, dikenal sebagai seorang ulama, sehingga rumah dan lingkungannya menjadi sekolah pertama bagi Kholil kecil.

Ketekunan belajar menjadi ciri yang menonjol sejak dini. Ia tidak hanya menghafal, melainkan berusaha memahami makna dan mengamalkan ilmu yang dipelajarinya. Sikap inilah yang kelak membentuk cara mengajarnya: ilmu disampaikan dengan sabar, mendalam, dan selalu dikaitkan dengan akhlak serta amal sehari-hari.

Menuntut Ilmu hingga ke Makkah

Perjalanan menuntut ilmu membawa Kholil muda hingga ke Makkah al-Mukarramah, pusat ilmu Islam pada zamannya. Di sana ia belajar kepada para ulama besar dan memperdalam berbagai bidang, mulai dari fikih, tauhid, tasawuf, hingga ilmu-ilmu alat seperti nahwu dan sharaf. Masa belajar yang panjang ini mengasah kedalaman ilmunya sekaligus memperluas wawasannya tentang dunia Islam.

Sepulang dari Makkah, ia tidak memilih jalan untuk sekadar menikmati kemasyhuran sebagai ulama. Sebaliknya, ia kembali ke tanah kelahirannya dan membuka pintu rumah serta pesantrennya bagi siapa saja yang ingin belajar. Baginya, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diajarkan dan diamalkan, bukan sekadar disimpan untuk diri sendiri.

Baca Juga: SERI 2/7 Profil Syaikh Nawawi al-Bantani: Ulama Banten yang Mengajar di Makkah dan Daftar Pondok Pesantren di Kabupaten Bangkalan Madura.

Mendirikan Pesantren dan Mengajar dengan Ikhlas

Di Bangkalan, Syaikhona Kholil mendirikan pesantren yang kemudian menjadi salah satu pusat pendidikan Islam penting di Madura. Pesantren ini tidak hanya mengajarkan kitab-kitab klasik, tetapi juga membentuk karakter santri: disiplin, tawadhu, dan peduli kepada masyarakat. Banyak santri yang datang dari berbagai daerah, menempuh perjalanan jauh hanya untuk duduk di majelisnya.

Cara mengajarnya terkenal teliti dan penuh kesabaran. Ia memperhatikan kemampuan masing-masing santri, tidak tergesa-gesa, dan selalu menekankan adab sebelum ilmu. Bagi para santrinya, duduk di hadapannya bukan sekadar belajar teks, melainkan belajar bagaimana menjadi manusia yang berakhlak dan bermanfaat.

Selain mengajar, ia juga mendirikan masjid dan turut menggerakkan kehidupan keagamaan masyarakat sekitar. Pesantren dan masjid menjadi dua pusat yang saling menguatkan: tempat belajar, tempat ibadah, dan tempat masyarakat berkumpul untuk menyelesaikan persoalan hidup dengan cara yang baik.

Murid-Murid yang Menjadi Ulama Besar

Warisan terbesar Syaikhona Kholil terlihat dari murid-muridnya. Di antara santri yang pernah belajar kepadanya adalah KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, serta KH Wahab Hasbullah, KH As’ad Syamsul Arifin, dan banyak ulama lain yang kemudian memimpin pesantren-pesantren besar di Jawa dan Madura. Melalui murid-murid inilah ilmu dan sanad keilmuannya tersebar luas hingga ke generasi berikutnya.

Hubungan guru dan murid ini bukan sekadar hubungan belajar mengajar. Para muridnya memandang Syaikhona Kholil sebagai teladan hidup: seorang guru yang doanya diharapkan, nasihatnya didengar, dan restunya dicari sebelum mengambil keputusan besar. Inilah yang membuat namanya terus disebut dengan hormat, bahkan puluhan tahun setelah wafatnya.

Peran bagi Berdirinya Nahdlatul Ulama

Berdirinya Jam’iyah Nahdlatul Ulama pada 1926 tidak dapat dilepaskan dari peran Syaikhona Kholil. Dalam berbagai catatan sejarah NU, ia disebut sebagai sosok yang memberi dorongan, restu, dan dukungan moral kepada para ulama muda yang menggagas organisasi tersebut. Para pendiri NU adalah murid-murid dan orang-orang yang dekat dengannya, sehingga arah perjuangan NU sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang ia ajarkan: menjaga tradisi ulama, menguatkan pesantren, dan membela kepentingan umat.

Kisah tentang restu dan isyaratnya kepada KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah sering diceritakan dalam tradisi NU sebagai bukti kepercayaan seorang guru kepada murid-muridnya. Terlepas dari beragam versi kisahnya, pesan yang dapat dipetik tetap sama: seorang guru besar tidak takut muridnya melampaui dirinya, justru ia mendorong muridnya untuk berbuat lebih besar bagi umat.

Karya, Karomah, dan Keteladanan

Syaikhona Kholil juga dikenal memiliki sejumlah karya tulis keislaman yang hingga kini masih dikaji di lingkungan pesantren. Karya-karyanya mencerminkan kedalaman ilmunya dalam bidang fikih, tasawuf, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya. Di samping itu, dalam cerita yang beredar di masyarakat, ia dikenal sebagai seorang wali yang memiliki karomah, yang diperoleh melalui kesungguhan ibadah dan suluk tasawuf yang panjang.

Bagi masyarakat, karomah bukanlah hal utama yang membuat namanya besar. Yang lebih dikenang adalah kesederhanaan hidupnya, kepeduliannya kepada orang kecil, dan keberaniannya bersikap dalam menghadapi ketidakadilan pada masa penjajahan. Ia mengajarkan bahwa ilmu harus berpihak pada kebenaran dan kemaslahatan, bukan sekadar menjadi hiasan gelar.

Wafat dan Makam yang Diziarahi

Syaikhona Kholil wafat pada 29 Ramadan 1343 Hijriah, bertepatan dengan 24 April 1925, dan dimakamkan di Martajasah, Bangkalan. Makamnya hingga kini menjadi tujuan ziarah para santri, ulama, dan masyarakat dari berbagai daerah. Peziarah datang bukan hanya untuk mendoakan, melainkan juga untuk mengenang kembali ajaran dan teladan hidupnya.

Ziarah ke makam ulama dalam tradisi pesantren bukan sekadar ritual. Ia menjadi pengingat bahwa ilmu, amal, dan akhlak yang ditinggalkan seseorang dapat terus hidup dan memberi manfaat jauh setelah pemiliknya tiada. Itulah warisan sejati yang ditinggalkan Syaikhona Kholil.

Warisan untuk Generasi Hari Ini

Apa yang dapat dipetik generasi hari ini dari sosok Syaikhona Kholil? Pertama, kesungguhan dalam belajar. Ia menempuh perjalanan jauh dan belajar bertahun-tahun tanpa mengeluh. Kedua, keikhlasan dalam mengajar. Ilmu yang ia miliki tidak ia simpan sendiri, melainkan ia sebarkan seluas-luasnya. Ketiga, tawadhu dan keberpihakan kepada umat. Gelar dan kemasyhuran tidak membuatnya jauh dari masyarakat kecil.

Di tengah arus informasi yang serba cepat, teladan Syaikhona Kholil mengingatkan kita bahwa ilmu membutuhkan sanad, kesabaran, dan guru yang membimbing. Belajar dari buku dan layar memang penting, tetapi belajar kepada guru yang berakhlak tetap menjadi jalan utama dalam tradisi pesantren. Semoga kisah hidup Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan ini menjadi inspirasi bagi kita untuk terus belajar, mengajar, dan berkhidmah dengan ikhlas. Lahul Fatihah.

Sumber: NU Online Jombang — Syaikhona Kholil Bangkalan, Guru Ulama Indonesia — https://jombang.nu.or.id/opini/syaikhona-kholil-bangkalan-guru-ulama-indonesia-c5pSJ (4 April 2019); Wikipedia bahasa Indonesia — Kholil al-Bangkalani — https://id.wikipedia.org/wiki/Kholil_al-Bangkalani (diakses 5 November 2026)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *