Pulang dari Assisi, Menag Bawa Tawaran Kerja Sama dari Inggris, Australia, Pakistan, hingga Vatikan

Jemaah berkumpul di interior sebuah masjid dengan arsitektur Islam yang indah

Foto: Jemaah berkumpul di interior masjid. Kredit foto: Mohammed Alim via Pexels.

Kepulangan Menteri Agama Nasaruddin Umar dari forum internasional di Assisi, Italia, membawa kabar baik bagi diplomasi keagamaan Indonesia. Dari pertemuan dengan para tokoh agama dunia itu, ia membawa pulang sejumlah peluang kerja sama internasional yang siap ditindaklanjuti oleh Kementerian Agama dan Masjid Istiqlal.

Sejumlah perwakilan negara menyampaikan ketertarikan untuk menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama dan Istiqlal. Tiga negara yang disebut Menag secara khusus adalah Inggris, Australia, dan Pakistan. “Mereka ingin kerja sama dengan Kementerian Agama dan Istiqlal, terutama di Inggris, ya, kemarin Inggris, Australia, dan Pakistan,” ujar Nasaruddin dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Respons positif itu tidak datang begitu saja. Dalam forum di Assisi, Indonesia menggulirkan gagasan diplomasi keagamaan yang mendapat sambutan hangat dari para peserta. Gagasan tersebut dinilai menawarkan cara pandang yang segar tentang bagaimana agama dapat menjadi jembatan dialog, bukan sekat perpecahan.

Selain peluang kerja sama antarlembaga, kunjungan tersebut juga membuka kolaborasi dengan sejumlah negara dan perguruan tinggi di Italia serta Vatikan. Menurut Menag, ketertarikan itu menunjukkan pengalaman Indonesia dalam mengelola keberagaman dan menjaga kehidupan beragama yang moderat semakin mendapat perhatian masyarakat internasional.

“Pokoknya Indonesia itu sekarang jadi model, ya, terutama moderasi beragama kita,” kata dia. Pernyataan itu menegaskan bahwa moderasi beragama yang selama ini dibangun di dalam negeri kini dipandang sebagai rujukan oleh dunia luar.

Di bidang akademik, dua universitas di Italia dan Vatikan menyampaikan ketertarikan untuk membangun kolaborasi dengan Indonesia. Kedua perguruan tinggi itu ingin mempelajari pengalaman Indonesia dalam menjaga persatuan di tengah masyarakat yang majemuk. “Ada dua universitas di Italia dan Vatikan itu mengajak kita kerja sama,” kata Menag.

Salah satu universitas tersebut adalah PISAI (Pontificio Istituto di Studi Arabi e d’Islamistica) atau Institut Kepausan untuk Studi Arab dan Islam, lembaga binaan Tahta Suci Vatikan. Kehadiran PISAI dalam daftar mitra potensial menunjukkan bahwa dialog keagamaan Indonesia–Vatikan kini merambah jalur akademik yang lebih terstruktur.

Menag menilai kerja sama itu dapat menjadi ruang pembelajaran bersama. Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam mengelola kemajemukan masyarakat, sementara Vatikan menyimpan kekayaan literatur dan tradisi keilmuan yang dapat menjadi sumber pembelajaran. “Mereka berkepentingan untuk belajar ke Indonesia. Kita pun juga, saya kira, perlu belajar di Vatikan,” tuturnya.

Gambaran tentang kekayaan itu ia peroleh langsung saat mengunjungi perpustakaan di Vatikan. Di sana, ia menemukan banyak koleksi literatur Islam, termasuk sejumlah kitab yang jarang dijumpainya di Indonesia maupun di negara-negara Timur Tengah. Temuan itu menjadi pengingat bahwa khazanah keilmuan Islam tersebar luas dan perlu terus digali lewat pertukaran pengetahuan.

Pengalaman selama kunjungan tersebut, menurut Menag, memperlihatkan pentingnya pertukaran pengetahuan dan dialog antartradisi keagamaan. Bagi Indonesia, diplomasi keagamaan bukan sekadar pertemuan seremonial, melainkan jalan nyata untuk membuka kerja sama, memperdalam pemahaman lintas iman, dan memperkuat posisi Indonesia sebagai teladan kerukunan di mata dunia.

Baca Juga:

Sumber: ANTARA: Menag bawa sejumlah peluang kerja sama hasil pertemuan di Assisi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *