KUR Tembus Rp262 Triliun untuk 4 Juta Debitur, Pemerintah Jaga Kualitas Kredit UMKM

Keluarga Islami

Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menyampaikan realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp262 triliun kepada lebih dari empat juta debitur hingga 26 Oktober 2026. Program tersebut menjadi salah satu instrumen strategis pemerintah untuk memperluas akses permodalan produktif bagi pelaku UMKM di Indonesia.

“Dalam konteks pembiayaan Kredit Usaha Rakyat, masih menjadi salah satu instrumen strategis pemerintah untuk memperluas akses modal produktif,” kata Maman dalam sambutannya dalam acara International Fora for Kredit Program Pemerintah, di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Kamis. Dengan kata lain, KUR bukan sekadar soal menyalurkan dana, melainkan soal membuka jalan bagi usaha kecil agar bisa memperoleh modal yang benar-benar dipakai untuk berproduksi dan berkembang.

Dari total debitur tersebut, jumlah debitur baru mencapai sekitar 1,6 juta atau 118 persen dari target. Sementara itu, debitur yang berhasil mengalami graduasi atau naik kelas tercatat sekitar 700 ribu orang, setara dengan 64 persen dari target yang ditetapkan. Angka-angka ini menunjukkan dua hal sekaligus: jangkauan program terus meluas ke pelaku usaha yang baru pertama kali mengakses pembiayaan, dan sebagian penerima lama berhasil naik kelas ke tingkat usaha yang lebih tinggi.

Maman mengatakan capaian tersebut menunjukkan bahwa penyaluran KUR tidak hanya diarahkan untuk memperluas jangkauan penerima pembiayaan, tetapi juga mendorong perkembangan usaha agar mampu tumbuh ke tingkat yang lebih tinggi. “Keberhasilan kredit program pemerintah tidak hanya bisa diukur dari seberapa besar dana yang berhasil kita salurkan, tetapi harus dilihat dari seberapa besar dampak pembiayaan tersebut bagi para pengusaha mikro, kecil, dan menengah,” ujarnya. Pesan ini menegaskan bahwa ukuran sukses program bukan semata-mata besarnya dana yang keluar, melainkan perubahan nyata pada usaha penerimanya.

Ia juga mengungkapkan penyaluran KUR ke sektor produksi telah mencapai 65,9 persen. Capaian itu memenuhi target yang ditugaskan kepada Kementerian UMKM pada 2026 melalui rapat komite pembiayaan. Menurut Maman, capaian tersebut melanjutkan kinerja tahun sebelumnya ketika realisasi penyaluran KUR ke sektor produksi mencapai 60,7 persen, melampaui target sebesar 60 persen. Arah ke sektor produksi ini penting karena pembiayaan yang masuk ke kegiatan produksi cenderung menggerakkan usaha secara langsung, berbeda dengan pembiayaan yang hanya berputar di konsumsi.

Meski demikian, ia meminta agar target penyaluran KUR ke sektor produksi pada 2027 dipertahankan di kisaran 65 persen. Pemerintah perlu memastikan peningkatan pembiayaan berjalan beriringan dengan kesiapan perbankan dan kualitas penyaluran kredit. “Untuk tahun 2027 kita coba maintain dulu di 65, karena jangan sampai ini didorong lagi ke 70,” kata Maman. Ia menjelaskan pemerintah ingin melihat konsistensi sistem yang telah dibangun dalam mendorong pembiayaan ke sektor produksi sebelum menetapkan target yang lebih tinggi. Sikap menahan target ini menunjukkan kehati-hatian: kenaikan yang terlalu cepat tanpa kesiapan penyalur justru berisiko menurunkan kualitas kredit.

Maman menegaskan perluasan akses pembiayaan harus disertai upaya menjaga kepercayaan lembaga keuangan. Dengan demikian, program KUR dapat terus mendukung pertumbuhan usaha sekaligus menjaga kualitas kredit yang disalurkan. Kepercayaan perbankan menjadi kunci keberlanjutan program, sebab tanpa kepercayaan itu, penyaluran ke jutaan pelaku usaha kecil akan sulit dipertahankan. Pada akhirnya, KUR diharapkan tetap menjadi jembatan antara pelaku UMKM dan perbankan: usaha mendapat modal untuk tumbuh, sementara kualitas kredit tetap terjaga.

Baca Juga:

Sumber: ANTARA – Menteri UMKM: KUR menembus Rp262 triliun, jangkau lebih 4 juta debitur

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *